Lagu Bapak Soekarno Jadi Jejak Nasionalisme, Saksi Masa Kecil di Tengah Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan RI

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 06:06 WIB
BERJIWA NASIONALIS: Nenek Hafidah setelah menyanyikan lagu Bapak Soekarno di rumahnya, di Dusun Jenglor, Desa Lajing, Kecamatan Arosbaya, Bangkalan, Jumat (7/8). (INA HERDIYANA/JPRM)
BERJIWA NASIONALIS: Nenek Hafidah setelah menyanyikan lagu Bapak Soekarno di rumahnya, di Dusun Jenglor, Desa Lajing, Kecamatan Arosbaya, Bangkalan, Jumat (7/8). (INA HERDIYANA/JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Kulitnya keriput, usianya sudah senja, namun nasionalismenya tak pernah padam. Kalimat tersebut cocok disematkan kepada Hafidah.

Perempuan lanjut usia (lansia) itu masih fasih melafalkan lirik lagu Bapak Soekarno, yang dinyanyikan pada masa kecilnya saat mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat (SR). 

Lagu tersebut berkisah tentang Presiden Soekarno dan wakilnya, Mohammad Hatta.

Baca Juga: Dua Pelukis Cilik Wakili Bangkalan dalam Pameran Lukis Anak di Galeri Perpusnas Jakarta, Darah Seni Mengalir dari sang Kakek

Selain itu, juga berisi ajakan kepada rakyat untuk terus berjuang menghadapi penjajahan Belanda, khususnya pasca kemerdekaan.

Dengan wajah semringah, dia menyanyikan lagu itu saat Jawa Pos Radar Madura (JPRM) mengunjungi rumahnya di Dusun Jenglor, Desa Lajing, Kecamatan Arosbaya, Bangkalan, Jumat (7/8).

Suaranya memang tidak sekuat saat masih muda. Namun, setiap bait yang keluar dari bibirnya seakan membuka kembali lembaran masa lalu yang telah puluhan tahun tersimpan.

”Bapak Soekarno, presiden kita// Wakilnya itu Mohammad Hatta// Mari berjuang anak tentara// Janganlah takut musuh Belanda// Angkat senjata di pundak kita// Untuk membela nusa dan bangsa// Supaya hidup tetap merdeka// Supaya mati dapat surga.”

Begitulah lirik lagu yang dinyanyikan nenek Hafidah hingga selesai.

Baca Juga: Kolaborasi Guru dan Orang Tua dalam Program Kesehatan Anak Berbasis Rempah Madura Berbantuan Aplikasi Smart Integration di TK Sembilangan Bangkalan

Hafidah menceritakan, di masa kecilnya, penjajahan Belanda membuat akses pendidikan masyarakat serba terbatas.

Banyak anak muda yang tidak bisa mengenyam pendidikan dengan layak.

Kondisi itu membuat pengalaman Hafidah di bangku sekolah hanya berlangsung hingga kelas III SR.

”Banyak orang sembunyi, takut untuk sekolah. Sebab, setelah merdeka pada 1945, Belanda masih menduduki wilayah Indonesia,” ujarnya.

Di balik keadaan yang serbasulit itu, dia tetap berupaya mengenyam pendidikan meski tidak tuntas karena menikah.

Sementara lagu-lagu perjuangan yang dulu sering dinyanyikan tetap melekat hingga usia senjanya.

Baca Juga: Siti Khotijah, Lansia Asal Kecamatan Arosbaya, Bangkalan, Meski Berusia 120 Tahun, Tetap Istiqomah Salat Lima Waktu

Hafidah merupakan anak Khotijah, seorang lansia kini berusia 120 tahun. Sementara Hafidah telah berusia sekitar 85 tahun.

Banyak hal dari masa lalunya mungkin telah samar dalam ingatannya. Namun, lagu perjuangan itu masih bertahan.

Bahkan, melalui dia, lagu itu sampai pada generasi saat ini.

Hal tersebut menjadi bukti rasa nasionalisme rakyat Indonesia meski lagu itu tidak tertulis dalam buku sejarah. (ina/jup)

Editor : Hera Marylia Damayanti
lagu Bapak Soekarno lirik lagu lagu perjuangan Hafidah penjajahan belanda