BANGKALAN, RadarMadura.id – Kulitnya keriput, usianya sudah senja, namun nasionalismenya tak pernah padam. Kalimat tersebut cocok disematkan kepada Hafidah.
Perempuan lanjut usia (lansia) itu masih fasih melafalkan lirik lagu Bapak Soekarno, yang dinyanyikan pada masa kecilnya saat mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat (SR).
Lagu tersebut berkisah tentang Presiden Soekarno dan wakilnya, Mohammad Hatta.
Selain itu, juga berisi ajakan kepada rakyat untuk terus berjuang menghadapi penjajahan Belanda, khususnya pasca kemerdekaan.
Dengan wajah semringah, dia menyanyikan lagu itu saat Jawa Pos Radar Madura (JPRM) mengunjungi rumahnya di Dusun Jenglor, Desa Lajing, Kecamatan Arosbaya, Bangkalan, Jumat (7/8).
Suaranya memang tidak sekuat saat masih muda. Namun, setiap bait yang keluar dari bibirnya seakan membuka kembali lembaran masa lalu yang telah puluhan tahun tersimpan.
”Bapak Soekarno, presiden kita// Wakilnya itu Mohammad Hatta// Mari berjuang anak tentara// Janganlah takut musuh Belanda// Angkat senjata di pundak kita// Untuk membela nusa dan bangsa// Supaya hidup tetap merdeka// Supaya mati dapat surga.”
Begitulah lirik lagu yang dinyanyikan nenek Hafidah hingga selesai.
Hafidah menceritakan, di masa kecilnya, penjajahan Belanda membuat akses pendidikan masyarakat serba terbatas.
Banyak anak muda yang tidak bisa mengenyam pendidikan dengan layak.
Kondisi itu membuat pengalaman Hafidah di bangku sekolah hanya berlangsung hingga kelas III SR.
”Banyak orang sembunyi, takut untuk sekolah. Sebab, setelah merdeka pada 1945, Belanda masih menduduki wilayah Indonesia,” ujarnya.
Di balik keadaan yang serbasulit itu, dia tetap berupaya mengenyam pendidikan meski tidak tuntas karena menikah.
Sementara lagu-lagu perjuangan yang dulu sering dinyanyikan tetap melekat hingga usia senjanya.
Hafidah merupakan anak Khotijah, seorang lansia kini berusia 120 tahun. Sementara Hafidah telah berusia sekitar 85 tahun.
Banyak hal dari masa lalunya mungkin telah samar dalam ingatannya. Namun, lagu perjuangan itu masih bertahan.
Bahkan, melalui dia, lagu itu sampai pada generasi saat ini.
Hal tersebut menjadi bukti rasa nasionalisme rakyat Indonesia meski lagu itu tidak tertulis dalam buku sejarah. (ina/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti