Cerita Moh. Rifqi Abdillah Mulai Ikut Casting hingga Lolos Jadi Aktor Film Foufo, Taklukkan Minder, Jemput Mimpi di Layar Lebar

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 06:28 WIB
SEDERHANA: Rifqi Abdillah bersama ibunya setelah bincang-bincang dengan JPRM di Warkop Fafa, Jalan Trunojoyo, No. 16, Kelurahan Pejagan, Bangkalan, Rabu (12/8). (INA HERDIYANA/JPRM)
SEDERHANA: Rifqi Abdillah bersama ibunya setelah bincang-bincang dengan JPRM di Warkop Fafa, Jalan Trunojoyo, No. 16, Kelurahan Pejagan, Bangkalan, Rabu (12/8). (INA HERDIYANA/JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Pengalaman Moh. Rifqi Abdillah dalam pentas drama Sendèlan Madhurâ pada 2024 dan 2025 membawanya tampil di layar lebar.

Yakni, dipercaya memerankan tokoh Mustofa dalam film Foufo.

Semuanya bermula dari Sanggar Na’-kana’ Bhângkalan. Sanggar itu mendelegasikan empat anak untuk mengikuti proses casting.

Rifqi menjadi salah satu yang terpilih. Dia memulai casting di tingkat kabupaten pada awal April 2025.

Baca Juga: BRI Perkuat UMKM Desa Brilian Hargobinangun melalui Pendampingan dan Bantuan Usaha

Lalu, pada pertengahan April, dia mendapat panggilan casting lanjutan di Kaza Mall Surabaya.

Saat itu dinilai langsung oleh sang sutradara, yaitu Bayu Skak dan Dono Pradana.

Sepekan berikutnya, kabar menggembirakan datang. Dia dinyatakan lolos. Pada 1 Mei 2025, Rifqi diberangkatkan ke Jakarta untuk mengikuti proses lanjutan bersama para pemain terpilih.

Kabar tersebut sontak membuat keluarga bahagia. Dia menghabiskan waktu sekitar dua setengah bulan untuk menjalani proses casting, latihan, hingga syuting.

Aprilia Yunia Husin, ibunda Rifqi, menceritakan, awalnya tidak menyangka Rifqi bisa lolos casting. Sebab, setiap pulang sekolah biasanya Rifqi lebih banyak bermain.

”Anaknya malah nangis waktu tahu lolos casting ke Jakarta,” kenangnya.

Baca Juga: Pemberhentian Kades Kelbung Belum Diproses, BPD Sebut Menghambat Pelayanan dan Gaji Perangkat Desa

Aprilia menuturkan, tidak mudah bagi Rifqi berada di antara calon pemain dari berbagai daerah.

”Dia sempat minder. Apalagi, peserta casting diperkirakan mencapai 2.500 orang dari seluruh Indonesia,” tuturnya.

Rasa grogi, takut salah, tidak percaya diri juga sering muncul dalam diri Rifqi. Namun, lingkungan syuting perlahan membuatnya berubah.

Setiap hari Rifqi harus mengikuti reading dan latihan. Dia digembleng untuk memahami karakter sekaligus membangun kepercayaan diri.

Rifqi menceritakan, adegan tersulit baginya yaitu ketika harus mengucapkan dialog bahasa Jawa. Namun, dia terus berlatih.

Bahkan, setelah bangun tidur, dialog harus kembali dipelajari dan diulang sebelum akhirnya siap berada di depan kamera.

”Setiap hari bangun pukul 09.00. Lalu, kami kumpul dan latihan berkali-kali, begitu setiap hari,” tutur siswa SMPN 3 Bangkalan itu.

Dukungan dari pemain membuat Rifqi perlahan mampu keluar dari rasa minder.

Salah satu sosok yang banyak membantu Rifqi saat syuting adalah Mieke Shahir, pemeran Nur dalam film tersebut, yang juga berdarah Bangkalan.

Di film tersebut, Mustofa adalah pelajar SMP dari keluarga kurang mampu yang terlilit utang.

Baca Juga: Bidik Juara Nasional, Cahaya Muda U-14 dalam Kejuaraan BRI Youth Champions League

Meski berada dalam kondisi serba terbatas, Mustofa digambarkan tetap tekun belajar. 

Ada sisi kehidupan Mustofa yang ternyata cukup dekat dengan kehidupan Rifqi. Terutama soal kondisi keluarga.

Dalam kehidupan nyata, Rifqi tinggal bersama ibunya. Aprilia harus bekerja keras sebagai pedagang untuk memenuhi kebutuhan rumah sekaligus membiayai pendidikan anaknya.

”Kalau kehidupan ada kemiripan. Tapi kalau Mustofa rajin belajar, Rifqi ini lebih banyak mainnya,” kata Aprilia sembari tertawa.

Meski begitu, proses syuting justru membuat perubahan pada diri Rifqi. Dia mulai lebih menghargai waktu dan memahami kondisi orang di sekitarnya.

Momen yang paling diingat Aprilia ketika Rifqi masih menjalani casting di Jakarta, yaitu saat tiba-tiba dia menelepon.

Bukan meminta sesuatu, tapi justru menanyakan kondisi ibunya. ”Bunda sudah makan? Rifqi makan enak di sini, Bun,” ujar Rifqi saat itu.

Bagi Aprilia, kalimat itu menunjukkan perubahan besar. Anak yang sebelumnya lebih banyak bermain mulai memiliki kepedulian terhadap sekitar, terutama keadaan sang ibu.

Perasaan Aprilia semakin campur aduk ketika akhirnya melihat sang anak tampil di layar bioskop. Air matanya berkali-kali menetes.

Kini nama Rifqi mulai dikenal masyarakat luas. Bahkan, sebagian orang tidak lagi memanggilnya dengan nama Rifqi, tapi sebagai Mustofa Foufo.

”Kalau kariernya semakin banyak dan menanjak, tetaplah jadi Rifqi yang seperti sekarang. Berbakti dan tidak sombong,” pesan Aprilia. (*/han)

Editor : Hera Marylia Damayanti
Sanggar Na’-kana’ Bhângkalan Rifqi lolos casting siswa SMPN 3 Bangkalan Foufo