BANGKALAN, RadarMadura.id – Cincin yang terlalu sempit membuat pemilik kesulitan melepaskannya dari jari. Kondisi itu dirasakan David, 14, remaja asal Kelurahan Kemayoran, Bangkalan.
Dia bersama keluarga mendatangi Kantor Satpol PP Bangkalan untuk meminta bantuan petugas damkar untuk melepas cincin di jarinya.
Kasi Pemadaman dan Penyelamatan Damkar Satpol PP Bangkalan Ortiz Iskandar menyampaikan, laporan mengenai kondisi tersebut diterima petugas pada Sabtu (8/8) sekitar pukul 16.00. Kemudian, tim melakukan evakuasi sekitar pukul 16.20.
Dia menuturkan, petugas menggunakan gerinda mini untuk memotong cincin di jari David.
Proses evakuasi berlangsung sekitar 15 menit. Setelah dievakuasi dengan hati-hati, cincin berhasil dilepas sekitar pukul 16.35.
"Kami melakukan evakuasi dengan hati-hati agar tidak melukai jari. Setelah cincin berhasil dipotong, akhirnya bisa dilepas," terang Ortiz.
Laporan tersebut disampaikan Abdus Sukkur. Pelapor masih tinggal di domisili yang sama, yakni di Jalan Teuku Umar IV, Kelurahan Kemayoran, Bangkalan.
Menurut Ortiz, evakuasi cincin merupakan salah satu bentuk pelayanan penyelamatan yang dilakukan Damkar Satpol PP Bangkalan.
"Petugas tidak hanya menangani kebakaran, tetapi juga membantu masyarakat dalam kondisi darurat yang membutuhkan proses evakuasi," paparnya.
Dia mengimbau kepada seluruh masyarakat agar lebih berhati-hati ketika menggunakan cincin.
Ukuran perhiasan sebaiknya disesuaikan dengan ukuran jari agar tidak menimbulkan masalah ketika jari mengalami pembengkakan.
"Jangan dipaksakan untuk dipakai apabila sudah tidak muat," tegasnya.
Sekadar diketahui, kejadian serupa juga pernah ditangani Damkar Satpol PP Bangkalan.
Pada Juni lalu, siswi SD Kemayoran 1 bernama Raisha harus mendapat bantuan petugas karena cincin yang dikenakannya terlalu kecil.
Jari tangannya membengkak sehingga cincinnya sulit dilepas.
Kondisi tersebut menjadi pengingat agar penggunaan cincin pada anak maupun remaja mendapat perhatian.
Jika cincin mulai terasa sempit, masyarakat disarankan segera melepasnya dan tidak menunggu hingga kondisi semakin sulit. (ina/yan)
Editor : Hera Marylia Damayanti