Dua Pelukis Cilik Wakili Bangkalan dalam Pameran Lukis Anak di Galeri Perpusnas Jakarta, Darah Seni Mengalir dari sang Kakek

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:45 WIB
BERBAKAT: Alzena Reyhana Rabbani (kiri) dan Eijaz Dinesha Taly Tsabitah berfoto bersama dalam suatu momen. (CHAIRUL ANWAR UNTUK JPRM)
BERBAKAT: Alzena Reyhana Rabbani (kiri) dan Eijaz Dinesha Taly Tsabitah berfoto bersama dalam suatu momen. (CHAIRUL ANWAR UNTUK JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Alzena, sapaan akrab Alzena Reyhana Rabbani menyuguhkan Kemenangan dan Merah Putih di Langit. Sementara Eijaz Dinesha Taly Tsabita biasa disapa Eijaz menghadirkan Cintaku dan Merah Putih di Bumi.

Keempat lukisan itu terpilih dalam Pameran Lukis Anak Nasional bertema Merdeka dan Elok yang digelar Sabtu (8/8)–Minggu (16/8) di Galeri Perpusnas, Jakarta.

Dari empat karya tersebut, tersimpan cara berbeda dalam memandang kehidupan.

Alzena, siswi kelas III SDN Demangan 1, Bangkalan, lebih senang mengabadikan momen kesehariannya. Misalnya, sekolah, rumah, dan aktivitas bermain.

Sementara Eijaz, siswi kelas II SDN Pejagan 1, Bangkalan, lebih sering mengeksplorasi warna dan bentuk abstrak. Kanvas menjadi ruang untuk menuangkan apa yang dirasakan.

Baca Juga: Spot Foto Seindah Lukisan! Begini Daya Tarik Kawah Putih Ciwidey yang Bikin Feed Instagram Auto Estetik

Karena itu, lukisan Eijaz tidak selalu menggambarkan objek tertentu, tetapi lebih menonjolkan ekspresi dan suasana hati. 

Meksel Mena, ibunda Alzena, menceritakan, bakat sang buah hati mulai terlihat sejak usia dini. Sejak kecil, Alzena senang bermain kertas.

Tidak sekadar menggambar, dia sering menggunting, mewarnai, mencoret-coret, dan menempelkan berbagai tulisan di atas kertas.

Kegemaran tersebut kemudian berkembang ketika Alzena memasuki usia TK. Melihat ketertarikan anaknya, Mena mulai menyediakan berbagai perlengkapan untuk melukis.

Kanvas dan cat diberikan agar Alzena memiliki ruang untuk mengeksplorasi kreativitasnya.

Merah Putih di Bumi karya Eijaz Dinesha Taly Tsabitah
Merah Putih di Bumi karya Eijaz Dinesha Taly Tsabitah

Kebiasaan itu terus berlanjut hingga sekarang. Tidak hanya berlatih di rumah, Alzena dan Eijaz juga mulai mengikuti berbagai lomba sejak duduk di bangku TK.

Berbagai prestasi pun berhasil dikoleksi. Di antaranya, enam lukisan terbaik dalam lomba melukis tingkat PAUD se-Kabupaten Bangkalan, harapan II lomba melukis dalam Pameran Lukisan Nasional Jelajah Pulau Madura, serta juara II lomba menggambar kategori SD se-Kabupaten Bangkalan dalam Semarak Kemerdekaan RI.

Baca Juga: Pameran Lukisan Ngopene Sumenep: Di Antara Apresiasi, Pasar, dan Ruang Galeri

Salah satu karya yang mengantarkan Alzena meraih juara di tingkat SD berjudul Bermain di TK. Lukisan tersebut menggambarkan aktivitas anak-anak dalam keseharian.

Kesempatan untuk membawa karya ke tingkat nasional bermula dari brosur yang dikirimkan RH Amin Imron, anggota DPR RI Dapil Jatim XI dari Bangkalan. 

Informasi tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh Mena dengan mengirimkan foto karya Alzena dan Eijaz.

Pameran yang diselenggarakan Vicky & Little Master itu terbuka bagi anak-anak se-Indonesia maksimal berusia 17 tahun.

Mena mengirimkan empat karya sekaligus dalam ajang tersebut. 

”Saya mencoba mengirimkan foto karya lukisan anak saya dan keponakan saya. Total ada empat lukisan. Ternyata mendapat respons baik dan keempatnya lolos semua,” ungkapnya.

Kabar kelolosan diterima sekitar dua pekan sebelum pameran dibuka. Seminggu kemudian, panitia meminta karya asli dikirimkan untuk dipajang dalam pameran.

Dari ratusan pendaftar, hanya 17 lukisan dari berbagai daerah di Indonesia yang dipilih untuk dipamerkan.

Baca Juga: Fenomena Wisata Gua Liang Kabori yang Kian Viral untuk Liburan Akhir Tahun: Sensasi Menjelajah Lukisan Purba, Alam Karst, dan Jejak Sejarah Muna

Empat di antaranya merupakan karya Alzena dan Eijaz. Bagi Mena, kesempatan tersebut menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. 

Apalagi, karya anak dan keponakannya akhirnya bisa dipajang di salah satu ruang pamer bergengsi di Jakarta.

”Sungguh tidak menyangka dan luar biasa,” ucapnya.

Pencapaian tersebut tidak datang secara tiba-tiba. Alzena dan Eijaz rutin berlatih setiap Minggu.

Merah Putih di Langit karya Alzena Reyhana Rabbani
Merah Putih di Langit karya Alzena Reyhana Rabbani

Mena bersama ayahnya, Chairul Anwar, juga membuka les melukis secara gratis. 

Lingkungan tersebut membuat keduanya memiliki ruang untuk terus mengasah kemampuan bakatnya.

Bahkan, ketika Eijaz berkunjung ke rumah Alzena, aktivitas melukis hampir selalu menjadi kegiatan bersama.

Sebab, kecintaan keduanya terhadap seni juga tidak lepas dari lingkungan keluarga. Alzena merupakan putri Mena, sedangkan Eijaz adalah putri Gadis Ashabi. 

Sejak kecil, mereka tumbuh dalam keluarga yang memberi ruang bagi anak untuk mengenal dan mengembangkan kreativitas.

Meski demikian, Mena tidak pernah memaksakan Alzena menjadi pelukis.

Baca Juga: Mengenal Filosofi Tari Ghellàng Soko dalam Festival Seni Tradisi Bangkalan 2026, Gelang Kaki Jadi Simbol Kebebasan Perempuan Madura

Menurut dia, prestasi di bidang nonakademik merupakan bonus dari proses belajar dan berkarya.

Hal yang paling penting adalah anak menikmati apa yang dikerjakan.

”Saya tidak pernah memaksa anak. Ketika anak berprestasi di bidang melukis, itu menjadi suatu keberuntungan,” ujarnya.

Mena berharap, kemampuan melukis Alzena dan Eijaz tidak berhenti pada perlombaan maupun pameran.

Lebih dari itu, ilmunya dalam seni lukis diharapkan menjadi bekal yang dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

”Lukislah apa yang kalian rasakan. Semoga ilmu ini bermanfaat buat kalian, lebih-lebih bagi orang lain,” pesannya. (ina/jup)

Editor : Hera Marylia Damayanti
Pemeran Lukis Anak Nasional kemampuan melukis Chairul Anwar Seni lukis prestasi