PT ASSI dan PT DLU Gelar Keel Laying, Dorong Kemajuan Industri Perkapalan Indonesia

Anis Billah • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 19:56 WIB
BERSINERGI: Dirut PT ASSI Anita Puji Utami (berkerudung), Penasehat Utama PT ASSI Bambang Harjo Soekartono, Owner PT DLU Bambang Eddy Suprapto, Dirut PT DLU Erwin H. Poedjono menekan tombol sirine saat prosesi peletakan lunas (Keel Laying), Kecamatan/Kabupaten Bangkalan, Sabtu (8/8).
BERSINERGI: Dirut PT ASSI Anita Puji Utami (berkerudung), Penasehat Utama PT ASSI Bambang Harjo Soekartono, Owner PT DLU Bambang Eddy Suprapto, Dirut PT DLU Erwin H. Poedjono menekan tombol sirine saat prosesi peletakan lunas (Keel Laying), Kecamatan/Kabupaten Bangkalan, Sabtu (8/8).

BANGKALAN, RadarMadura.id – PT Adiluhung Saranasegara Indonesia (ASSI) dan PT Dharma Lautan Utama (DLU) melaksanakan peletakan lunas (keel laying) pembangunan satu unit kapal feri Ro-Ro sepanjang 83 meter di galangan PT ASSI, Kecamatan/Kabupaten Bangkalan, Sabtu (8/8).

Kegiatan tersebut menjadi bentuk komitmen PT ASSI dan PT DLU dalam membangun kapal yang diproyeksikan sebagai kapal penyeberangan penumpang berkapasitas 744 penumpang dan 209 kendaraan. Keel laying merupakan tahap dimulainya proses pembangunan fisik kapal. Tanggal pelaksanaan peletakan lunas juga ditetapkan sebagai dasar pencatatan resmi umur kapal.

Direktur Utama PT DLU Erwin H. Poedjono mengatakan, kapal feri Ro-Ro yang dibuat di galangan PT ASSI merupakan armada ke-51. Pihaknya yakin industri galangan kapal dalam negeri mampu menghasilkan kapal berkualitas.

”Armada ke-51 ini tiada lain untuk mendukung perkembangan perekonomian nasional. Kami harus memastikan bahwa armada yang berlayar itu sangat layak,” ujarnya.

Erwin menyatakan, seluruh komponen kapal diupayakan sebanyak mungkin berasal dari dalam negeri. ”Yang bisa kami penuhi dari dalam negeri, kami ambil dari dalam negeri,” tuturnya.

Direktur Utama PT ASSI Anita Puji Utami mengucapkan terima kasih kepada PT DLU atas kepercayaannya. Pihaknya berkomitmen memaksimalkan kemampuan industri penunjang dalam negeri, termasuk meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) serta memanfaatkan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki sertifikasi keahlian.

Pembangunan kapal tersebut juga melibatkan berbagai pihak, mulai dari subkontraktor, pemasok, hingga pihak pengawas. Proses pembangunan diawasi PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI), termasuk terhadap komponen dan sistem pembangunan kapal. Selain itu, pembangunan juga melibatkan marine inspector/syahbandar.

Baca Juga: UTM Siap Dukung Pemkab Bangkalan, Dalam Menyambut Investor Asal Negeri Tirai Bambu

”PT ASSI berkomitmen menjaga mutu dan kualitas dengan pengawasan dari PT BKI maupun kantor wilayah kesyahbandaran setempat sesuai full SOLAS (Safety of Life at Sea) yang telah kita laksanakan,” tuturnya.

Anita menambahkan, pembangunan kapal membutuhkan waktu 15 bulan. Namun, pihaknya akan berupaya mempercepat pengerjaan menjadi 12 bulan dengan memaksimalkan SDM yang ada.

”Pengerjaan kapal feri Ro-Ro ini membutuhkan waktu 15 bulan, namun bisa kami percepat semaksimal mungkin menjadi 12 bulan. Kami melakukan strategi percepatan dengan sistem shift 1 dan 2, serta memaksimalkan pemberdayaan SDM yang ada,” tambahnya.

Selain itu, Penasihat Utama PT ASSI Bambang Harjo Soekartono mengapresiasi kerja sama antara PT ASSI dan PT DLU.

”Kerja sama ini dapat terus berkembang menjadi hubungan strategis yang saling menguatkan serta memberikan kontribusi terhadap kemajuan industri perkapalan Indonesia,” harapnya.

Pria yang juga menjabat sebagai Anggota Komisi VII DPR RI itu berharap pelaksanaannya berjalan lancar dan tepat waktu. ”Pembangunan kapal feri Ro-Ro dapat berjalan lancar dan aman serta nantinya mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa Indonesia,” pungkasnya. (vic/bil)

Editor : Anis Billah
PT LDU industri perkapalan TKDN pt assi