Siti Khotijah, Lansia Asal Kecamatan Arosbaya, Bangkalan, Meski Berusia 120 Tahun, Tetap Istiqomah Salat Lima Waktu

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 08:19 WIB
TERBARING: Nenek Siti Khotijah ditemani anaknya, Hafidah, dan menantunya, Osman, di rumahnya yang terletak di Dusun Jenglor, Desa Lajing, Kecamatan Arosbaya, Bangkalan, Jumat (7/8). (INA HERDIYANA/JPRM)
TERBARING: Nenek Siti Khotijah ditemani anaknya, Hafidah, dan menantunya, Osman, di rumahnya yang terletak di Dusun Jenglor, Desa Lajing, Kecamatan Arosbaya, Bangkalan, Jumat (7/8). (INA HERDIYANA/JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.idJarum jam menunjukkan pukul 11.00 ketika panggilan dari Siti Aminah, cucu Khotijah, masuk melalui WhatsApp.

Berbekal petunjuk Google Maps, Jawa Pos Radar Madura (JPRM) bergegas menuju rumah perempuan sepuh itu di Dusun Jenglor, Desa Lajing, Kecamatan Arosbaya, Bangkalan.

Sekitar 30 menit perjalanan, JPRM tiba di sebuah rumah sederhana, tempat Siti Khotijah menjalani hari-harinya di usia senja.

Kedatangan JPRM disambut hangat oleh keluarga. ”Silakan masuk,” ujar cucu Siti Khotijah, Siti Aminah.

Baca Juga: BPBD Sampang Ajukan Puluhan Titik Terdampak Kekeringan Dapat Bantuan Rehab

Di salah satu kamar, Khotijah terbaring di atas tempat tidur. Tasbih masih melekat di tangannya.

Di usia yang sudah renta, 120 tahun, ingatannya terhadap lingkungan sekitar terkadang mulai samar.

Namun, ada satu kebiasaan yang tak pernah hilang. Yaitu, berzikir dan beribadah.

Siti Aminah mendekat, lalu membisikkan sesuatu ke telinga neneknya.

”Ada tamu, ingin menjumpaimu,” ujar Aminah. Khotijah menjawab lirih dengan suara terbata-bata. ”Siapa?” tanyanya.

Pertanyaan sederhana itu menjadi awal perbincangan dengan perempuan yang telah melewati perjalanan hidup panjang tersebut.

Meski sesekali kesulitan mengingat hal-hal di sekitarnya, Khotijah masih mampu melafalkan bacaan salat dengan baik.

Menurut Aminah, kemampuan itu menjadi anugerah tersendiri.

Sebab, di tengah usia yang kian renta, Khotijah masih menjaga kebiasaan beribadah. 

Baca Juga: Tindak Lanjut Dinas ESDM Jatim Belum Jelas Terkait Suara Gemuruh Air di Dusun Bangsal

Salah satu bacaan yang paling sering dilantunkan setelah salat adalah surah Al-Kautsar.

Doa-doa yang dipanjatkannya pun kerap disampaikan menggunakan bahasa Madura.

Pakenceng ebadah, ngastete e jalan,” dalam bahasa Indonesia, rajinlah beribadah, hati-hati di jalan,” begitu ucapnya dalam keadaan terbaring.

Di ruang sederhana itu, cerita tentang kehidupan Khotijah mengalir. Sejak usia muda, dia menjalani kehidupan sebagai petani.

Hari-harinya dihabiskan untuk bekerja dan mengurus keluarga. Hingga sekitar 45 tahun lalu, suaminya meninggal dunia.

Sejak saat itu, Khotijah memilih bertahan dan menghabiskan waktunya untuk merawat anak-anaknya.

Dari lima anak, tiga di antaranya telah meninggal dunia.

Kini Khotijah tinggal bersama anak ketiganya, Hafidah; menantunya, Osman; serta cucunya, Siti Aminah.

Di mata keluarga, Khotijah dikenal sebagai perempuan penyabar.

Sejak muda, dia rajin berziarah dan tidak pernah meninggalkan salat. Kebiasaan tersebut tetap dijaga hingga saat ini.

Osman menuturkan, selain salat, Khotijah juga memiliki kebiasaan melantunkan salawat dan zikir.

Pada saat bulan puasa, Khotijah juga puasa sebulan penuh. Kalimat la haula wala quwwata illa billahil aliyyil adhim kerap terdengar dari bibirnya.

Baca Juga: Honda NS160GX 2026 Tampil Lebih Modern dengan TFT 5 Inci dan Honda RoadSync, Motor Naked Sport yang Siap Bersaing dengan Yamaha MT-15

”Kalau sedang diam, biasanya membaca salawat dan la haula wala quwwata illa billahil aliyyil adhim,” tutur Osman.

Kisah tentang Khotijah tidak hanya tentang perjalanan hidupnya.

Di situ juga terselip potongan cerita tentang masa awal kemerdekaan Indonesia yang masih tersimpan dalam ingatan Hafidah, anak Khotijah.

Hafidah kepada koran ini menuturkan, meski usia orang tuanya sudah cukup senja, tapi pola makannya sama seperti kaum muda.

Misalnya, terbiasa mengonsumsi makanan dan minuman tiga kali sehari.

Meski demikian, makanan dan minuman yang dikonsumsi tidak begitu banyak. ”Tidak seperti kaum muda,” paparnya.

Dia mengungkapkan, salah satu yang membuat orang tuanya tetap dikaruniai kesehatan adalah karena sejak dulu tidak mengonsumsi makanan dan minuman sembarangan.

Artinya, tidak mengonsumsi makanan dan minuman yang proses pembuatan dan pengemasannya menggunakan bahan kimia.

”Bahan baku makanan yang dikonsumsi berasal dari alam,” tuturnya.

Meski hidupnya sangat sederhana, Khotijah ternyata tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Keluarga berharap ada perhatian dari pemerintah untuk kelangsungan hidup perempuan lansia tersebut di masa mendatang.

”Belum (menerima bantuan), semoga saja ada perhatian dan bantuan dari pemerintah,” pungkasnya. (ina/yan)

Editor : Hera Marylia Damayanti
Siti Khotijah 120 tahun salawat dan zikir salat Kecamatan Arosbaya