BANGKALAN, RadarMadura.id – Ifaikah Kalidin tidak menyangka namanya akan bersanding dengan penulis-penulis besar.
Perempuan asal Kampung Bujur, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kwanyar, Bangkalan, itu berhasil menembus finalis 10 besar Piala H.B. Jassin Kategori Penulisan Cerpen Tingkat Internasional melalui cerpennya berjudul Moseng Kembhâng.
Perjalanan Ifaikah menuju festival sastra internasional melalui proses panjang.
Kecintaannya pada dunia tulis-menulis tumbuh sejak masih mondok di Pondok Pesantren Albar, Desa Sukolilo Timur, Kecamatan Labang.
Baca Juga: Menjembatani Digitalisasi dan Kearifan Lokal: Masa Depan Pendidikan di Madura
Saat itu dia gemar membaca. Bahkan ketika orang tuanya mengirim ke pondok, dia selalu menitip koran kiloan di pasar loak hanya untuk memenuhi kebutuhannya dalam membaca.
”Dulu saya sering minta belikan koran kiloan sama ibu. Setelah dibaca, kadang korannya saya jual kembali,” tuturnya sembari tertawa.
Selain gemar membaca, diam-diam dia juga suka menulis cerita di lembaran-lembaran kertas dan buku pelajaran. Tulisannya pernah dikirimkan ke majalah Gadis.
Namun, rasa minder membuatnya tak pernah berani mengirim karyanya lagi ke media massa.
Lingkungan tempatnya tumbuh juga memberi tantangan tersendiri.
Selama enam tahun mondok, Ifaikah sering mendengar anggapan bahwa perempuan cukup belajar di pesantren, kemudian menikah tanpa perlu mengejar pendidikan tinggi.
Dari pandangan yang sudah jadi tradisi di desanya itu, dia memilih jalan berbeda.
Ifaikah mengikuti program paket B yang diselenggarakan di pesantren, kemudian melanjutkan paket C secara mandiri.
Setelah itu, dia merantau ke Jakarta dengan tekad mengubah masa depannya.
Di ibu kota, kehidupannya jauh dari kata mudah. Dia bekerja sebagai sales promotion girl (SPG) demi membiayai kuliah D-3 Broadcasting di Universitas Bina Sarana Informatika.
Baca Juga: Menolak Nasionalisme Kosmetik: Otentisitas Agustus di Pelosok Madura
Di tengah kesibukan bekerja, Ifaikah terus mencari ruang untuk belajar sastra. Dia mengikuti berbagai kegiatan literasi.
Di antaranya Literary Ecosystem Lab-Jakarta International Literary Festival, Sastra Masuk Kampung, ASEAN Literary Festival, dan Festival Literasi Kampung Bujur, serta bergabung dengan Komunitas Literasi Berkaki.
Ifaikah menceritakan, salah satu novel yang menjadi inspirasinya dalam menulis adalah Maryam karya Okky Madasari.
Pada 2016, ada satu momen berkesan baginya, yaitu ketika dia mengikuti kegiatan Sastra Masuk Kampung di Kampung Muara, Jakarta Selatan. Saat itu dia berkesempatan mewawancarai novelis Okky Madasari.
Di acara tersebut, anak-anak membacakan puisi, ibu-ibu turut tampil, sementara masyarakat diberi ruang untuk mengekspresikan cerita mereka.
Dari sanalah Ifaikah mendapat pelajaran yang terus diingat hingga kini.
”Mbak Okky bilang, sastra bukan sesuatu yang sulit dimengerti, tetapi tentang hati nurani yang ingin disampaikan. Salah satu media yang bisa menyampaikannya dengan jujur adalah cerita,” kenangnya.
Sejak saat itu, semakin yakin bahwa sastra bukan milik kalangan tertentu, melainkan ruang bagi siapa saja untuk menyuarakan kegelisahan.
Keyakinan tersebut kemudian diwujudkan melalui cerpennya, Moseng Kembhâng. Proses penulisannya memakan waktu sekitar satu bulan.
Sebelum menulis, Ifaikah melakukan riset dengan mengamati dan berdialog dengan masyarakat di sekitarnya.
Bagian tersulit, menurut dia, berada di halaman awal cerita.
Dia harus menemukan pembuka yang mampu mengikat perhatian pembaca sekaligus menjaga rasa penasaran menuju halaman berikutnya.
Cerpen Moseng Kembhâng mengangkat dua isu. Pertama, tentang perempuan yang berani mengambil keputusan untuk bercerai karena persoalan rumah tangga tidak selalu berasal dari pihak perempuan.
Kedua, tentang alih fungsi lahan menjadi arena sabung ayam yang membuat habitat musang terusik hingga masuk ke permukiman warga.
Menurut Ifaikah, dua isu tersebut lahir dari realitas yang masih sering ditemui di masyarakat.
”Dalam cerpen itu, saya ingin menyampaikan bahwa perempuan tidak selalu menjadi objek yang dipersalahkan. Perempuan juga berhak mengambil keputusan untuk hidupnya sendiri,” tegasnya.
Ifaikah menjelaskan, keberhasilannya sebagai finalis sepuluh besar Piala H.B. Jassin menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi.
Keteguhannya dalam berkarya akhirnya mampu menyejajarkan dirinya dengan penulis ternama.
Dari sana, Ifaikah percaya bahwa hal-hal kecil yang diusahakan tidak akan sia-sia.
”Cerita yang lahir dari kejujuran akan selalu memiliki jalan untuk menemukan pembacanya,” ucapnya. (*/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti