BANGKALAN, RadarMadura.id – Sorak penonton menggema saat Anggita Dwi Cahyani berdiri di arena pertandingan GOR Ken Arok Malang, Jumat (24/7).
Dengan tenang dan penuh percaya diri, dia memperagakan gerakan demi gerakan pencak silat dengan tangkas.
Mahasiswi Program Sarjana Terapan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Surabaya itu sukses meraih Juara I Seni Tunggal Bersenjata Putri Dewasa pada Kejuaraan Pencak Silat Malang Championship VI Tingkat Nasional 2026.
Prestasi itu menjadi bukti konsistensinya setelah tahun sebelumnya juga menjadi juara pada nomor yang sama.
Baca Juga: Pencak Silat Jadi Sarana Pendidikan Karakter, DPR RI Berpesan Pesilat Membela Orang Lemah
Anggita menuturkan, mempertahankan gelar jauh lebih sulit daripada merebutnya. Sebab, lawan yang dihadapi bukan hanya atlet-atlet terbaik dari berbagai daerah, melainkan juga ekspektasi untuk kembali tampil sempurna.
”Lawan terberat saya sebenarnya adalah diri sendiri. Saya harus mengendalikan rasa gugup, menjaga fokus, dan tetap percaya diri saat tampil,” ujarnya.
Perjalanan menuju juara tidak diraih secara instan. Selama sekitar satu bulan menjelang kejuaraan, Anggita menjalani latihan lebih intensif.
Jadwal latihan yang biasanya hanya dilakukan setiap Senin dan Rabu, berubah menjadi hampir setiap hari selama dua pekan sebelum pertandingan.
Kesibukan sebagai mahasiswa keperawatan membuatnya harus pandai mengatur waktu. Di sela kuliah, tugas, dan aktivitas organisasi, dia tetap menyempatkan diri berlatih secara mandiri agar kemampuan dan kondisi fisiknya tetap terjaga.
”Kalau ada waktu luang setelah kuliah, saya manfaatkan untuk latihan. Saya membuat jadwal supaya kuliah dan latihan berjalan seimbang,” ucapnya.
Persiapan yang dilakukan tidak hanya menyangkut kemampuan teknik. Anggita juga menjaga pola makan, memperhatikan waktu istirahat, dan melatih mental sebelum bertanding.
Bahkan, dia memiliki kebiasaan menghindari minuman dingin menjelang pertandingan agar kondisi tubuh tetap prima.
Di arena pertandingan, prinsip yang selalu diingatnya adalah berlatih seperti sedang bertanding dan bertanding seperti sedang berlatih.
Kalimat sederhana itu menjadi pegangan dirinya agar tetap tenang ketika tampil di hadapan juri.
Ketertarikannya pada pencak silat berawal sejak duduk di kelas satu SMP. Saat itu, kedua orang tuanya mengenalkan olahraga tradisional tersebut.
Baginya, pencak silat tidak hanya mengajarkan teknik bela diri, tetapi juga membentuk karakter.
”Di pencak silat saya belajar disiplin, tanggung jawab, menjaga mental, dan pengendalian diri. Saya juga memang suka tantangan,” ungkapnya.
Perjalanan prestasinya terus meningkat. Saat masih SMP, dia sudah beberapa kali menorehkan prestasi di tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional. Memasuki bangku kuliah, prestasinya semakin matang.
Pada 2023, Anggita membawa tim kampusnya menjadi Juara I Seni Beregu Putri Dewasa pada IPSI Malang Championship III tingkat nasional.
Setahun kemudian, dia kembali mengharumkan nama Indonesia dengan meraih 1st Place Female Adult College Team Art pada ajang Father of World Pencak Silat Paku Bumi Open 12th Championship di Bandung.
Pada 2025, dia merebut Juara I Seni Tunggal Bersenjata Putri di Malang Championship V, sebelum akhirnya kembali mempertahankan gelar pada Malang Championship VI tahun ini.
Di balik deretan medali tersebut, perjalanan Anggita tidak selalu mulus. Dia pernah mengalami cedera ringan saat latihan.
Bahkan, ada masa ketika kelelahan akibat harus membagi waktu antara kuliah, organisasi, dan latihan membuatnya sempat ingin berhenti.
Namun, dukungan keluarga menjadi alasan terbesar untuk terus bertahan. Orang tuanya selalu memberikan motivasi dan doa.
Begitu pula pelatihnya, Edy Budiono, yang menurutnya selalu memberikan arahan, evaluasi, sekaligus suntikan semangat setiap latihan.
Keberhasilannya mempertahankan gelar juara nasional juga mendapat apresiasi dari kampus berupa beasiswa nonakademik.
Dia menyatakan, penghargaan itu menjadi penyemangat untuk terus berkembang.
Meski telah dua kali beruntun menjadi juara di Malang Championship, Anggita belum berpuas diri.
Dia ingin terus meningkatkan kemampuan dan memperbanyak pengalaman bertanding di level yang lebih tinggi.
”Target saya mempertahankan prestasi dan meraih hasil yang lebih baik lagi. Saya juga ingin mengikuti kejuaraan nasional maupun internasional agar bisa mengharumkan nama daerah dan kampus,” tegasnya.
Menurut Anggita, pencak silat mengajarkan bahwa keberhasilan lahir dari disiplin, konsistensi, dan kerja keras.
”Dan yang terpenting berani mengalahkan diri sendiri sebelum menghadapi lawan di arena pertandingan,” pungkas perempuan asal Desa Bilaporah Barat, Kecamatan Socah, Bangkalan, itu. (ina/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti