Afiyah Nur Kayati, Dosen Muda yang Nakhodai Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UTM

Amin Basiri • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 08:58 WIB

 

DOSEN MUDA: Koorprodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UTM Afiyah Nur Kayati berada di ruang kelas sebelum mengajar.
DOSEN MUDA: Koorprodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UTM Afiyah Nur Kayati berada di ruang kelas sebelum mengajar.

Tahun 2019 menjadi babak baru dalam perjalanan karier Afiyah Nur Kayati dalam dunia akademik. Setelah dinyatakan lolos seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS), perempuan kelahiran Jombang itu resmi bergabung sebagai dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Trunodjoyo Madura (UTM).


BANGKALAN, RadarMadura.id - Hari-hari pertama Afiyah sebagai dosen tidak selalu berjalan mudah. Lulusan magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu harus beradaptasi dengan tuntutan tridarma perguruan tinggi.

Mengajar, melakukan penelitian, dan mengabdi kepada masyarakat menjadi tanggung jawab yang harus dijalankan secara bersamaan.

”Di awal menjadi dosen memang tidak mudah. Saya harus belajar menyeimbangkan tugas mengajar, penelitian, dan pengabdian. Banyak hal yang saya pelajari melalui kolaborasi dengan rekan-rekan dosen, bahkan dengan lintas program studi,” tuturnya.

Afiyah menuturkan, adaptasi itu perlahan membuahkan hasil. Dia mulai dipercaya mengampu berbagai mata kuliah. Antara lain, telaah kurikulum, penyusunan buku teks, pembelajaran mikro, pembelajaran aktif BI, pembinaan literasi sekolah, dan penulisan karya ilmiah. Pengalamannya juga semakin bertambah ketika dia dipercaya menjadi fasilitator pembelajaran mendalam bagi kepala sekolah.

Kesungguhan dalam menjalankan tugas membuat kepercayaan terhadap dirinya terus bertambah. Kini Afiyah mengemban amanah sebagai Koordinator Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP UTM.

Menurut Afiyah, jabatan tersebut butuh tanggung jawab besar. Sebab, tidak hanya mengelola administrasi akademik, tetapi juga memastikan seluruh proses pendidikan berjalan sesuai dengan target.

Baginya, tantangan terbesar memimpin program studi adalah memberikan pelayanan terbaik kepada mahasiswa. Mulai dari memastikan kualitas pembelajaran, memenuhi target indikator kinerja utama (IKU), hingga mengawal mahasiswa agar dapat menyelesaikan studi tepat waktu.

”Lulusan PBSI harus memiliki kompetensi sehingga bisa diterima di berbagai instansi dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” harapnya.

 

INTERNASIONAL: Koorprodi PBSI FKIP UTM Afiyah Nur Kayati membersamai mahasiswa Palacky University Ceko.
INTERNASIONAL: Koorprodi PBSI FKIP UTM Afiyah Nur Kayati membersamai mahasiswa Palacky University Ceko.

Berangkat dari tujuan itu, dia menjadikan peningkatan mutu pembelajaran sebagai prioritas utama. Dosen didorong semakin aktif melakukan penelitian. Mahasiswa juga diberi ruang untuk menghasilkan karya ilmiah. Sementara program kuliah kerja nyata (KKN) diarahkan agar ampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Di saat yang sama, Afiyah juga membangun jejaring yang lebih kuat melalui pembentukan Ikatan Alumni (IKA) tingkat program studi dan fakultas. Menurut dia, alumni berperan penting dalam mendukung perkembangan jurusan sekaligus membuka peluang bagi mahasiswa yang akan memasuki dunia kerja.

Berbagai upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Pada Mei dan Juni tahun ini, empat mahasiswa PBSI UTM berhasil meraih juara I lomba Digital Media Creation EDGIN Fest International Competition yang diselenggarakan oleh Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) yang berkolaborasi dengan International Transnational Education Association (ITEA). Selain itu, disusul keberhasilan mahasiswa lain yang menyabet juara I lomba internasional Pertandingan Forum Piala Menteri Besar Perak Ke-16 Peringkat Antarbangsa 2026.

Langkah menuju internasional tidak berhenti di sana. Melalui mata kuliah Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), PBSI UTM terus memperluas kerja sama dengan perguruan tinggi luar negeri.

Pada September mendatang, dua mahasiswa dijadwalkan mengikuti program asistensi pembelajaran di Malaysia. Selanjutnya, pada November, mahasiswa PBSI juga akan diberangkatkan ke Walailak University, Thailand

 

INTERNASIONAL: Koorprodi PBSI FKIP UTM Afiyah Nur Kayati membersamai mahasiswa Palacky University Ceko.
INTERNASIONAL: Koorprodi PBSI FKIP UTM Afiyah Nur Kayati membersamai mahasiswa Palacky University Ceko.

Meski aktif memperluas jejaring internasional, Afiyah menegaskan bahwa perhatian terhadap budaya lokal tetap menjadi prioritas. Bersama mahasiswa, dia mendorong lahirnya berbagai penelitian yang mengangkat bahasa, sastra, dan kearifan lokal Madura agar hasil penelitian benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Semangat literasi juga dibangun melalui Komunitas Karsa yang berfokus pada penulisan karya ilmiah dan Komunitas Akar yang bergerak di bidang teater. Dua komunitas tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan akademik sekaligus kreativitas.

Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), Afiyah menilai teknologi sebagai alat yang harus dimanfaatkan secara bijaksana. Menurutnya, AI dapat membantu proses pembelajaran maupun penulisan karya sastra. Namun, teknologi tidak boleh menggantikan kemampuan berpikir kritis, empati, dan kreativitas manusia.

Karena itu, dia selalu mengingatkan mahasiswa agar tetap rajin membaca, mengasah kepekaan, dan menjunjung nilai-nilai moral. Prinsip tersebut dirangkum dalam slogan khas PBSI FKIP UTM. Yakni, Bahasaku Sastraku, Jiwaku Indonesia.

Menurut Afiyah, seorang pendidik, khususnya dosen, harus mampu mengantarkan mahasiswa mencapai masa depan yang lebih baik. ”Yang paling membahagiakan bagi saya, ketika melihat mahasiswa sukses, bahkan mampu melampaui dosen-dosennya. Saya merasa perjuangan selama ini terbayar,” ungkapnya. (*/han)

Editor : Amin Basiri
FKIP UTM dosen muda Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia