BANGKALAN, RadarMadura.id – Delapan jam tanpa telepon genggam, tanpa akses internet, hanya ditemani lembar-lembar kertas, pena, dan imajinasi.
Di salah satu ruangan Universitas Negeri Malang (UM), W. Rosariasti Nurul K. menulis cerita pendek cerpen dengan tema Korupsi Sumber Daya Alam dan Tetes Air Mata Bangsa.
Tema itu sempat membuat mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) STKIP PGRI Bangkalan itu bingung.
Bukan karena kehabisan ide. Namun, dia mengaku tidak terlalu menyukai tema yang bersinggungan dengan persoalan korupsi.
Baca Juga: Resensi Antologi Cerpen Lempung dan Mesin Tubuh yang Hilang, Menyulam Dunia di Tanah (yang) Liat
Namun, dari kebingungan itulah lahir cerpen berjudul Tak Lagi Tersisa. Karya itu mengantarkannya meraih juara harapan I kategori menulis cerpen dalam Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) 2026 yang digelar di UM, Rabu (8/7).
”Awalnya saya benar-benar tidak menyangka bisa mendapat penghargaan. Temanya cukup sulit bagi saya,” tuturnya.
Perempuan kelahiran Biak, 9 Agustus 2003, itu tidak mengangkat korupsi dari sudut pandang yang biasa.
Dia membawa pembaca pada kisah seorang tokoh bernama Ryan yang terobsesi mengejar kesuksesan demi membahagiakan ibunya.
Dalam cerpen yang ditulisnya, tokoh Ryan terlibat dalam praktik penebangan hutan.
Akibatnya, bencana banjir melanda dan menyisakan duka bagi banyak orang. Ironisnya, pelaku juga menjadi korban dari ambisi yang selama ini dikejarnya.
Jadi, dia menciptakan tokoh sebagai pelaku sekaligus sebagai korban atas perbuatannya.
”Pesan yang ingin saya sampaikan, jangan terlalu terbenam dalam obsesi mencapai tujuan sampai lupa melihat orang-orang yang selama ini mendukung kita. Nanti bisa menyesal ketika semuanya sudah terlambat,” ucapnya.
Baca Juga: Toko Batas Kota Sajikan Ruang Literasi dan Ekspresi, Ingin Bangun Budaya Baca di Kota Bahari
Membangun konflik menjadi tantangan tersulit selama lomba berlangsung. Dia ingin menghadirkan tokoh yang tidak sepenuhnya hitam atau putih.
Ryan memang bersalah, tetapi dia juga manusia yang tersesat oleh ambisinya.
Karena itu, Rosa menghadirkan sosok ibu sebagai poros emosi cerita. Seorang ibu tunggal yang membesarkan Ryan sejak kecil dan perlahan menyadari perubahan sikap anaknya.
Pembaca kemudian dibawa pada kejutan di bagian akhir cerita. Ryan ternyata tidak sengaja mengabaikan ibunya.
Dia terlalu sibuk mengejar cita-cita hingga tanpa sadar melupakan orang yang selama ini menjadi alasan perjuangannya. Konflik itulah yang jadi titik fokus cerita yang ditulisnya.
”Saya merevisi hingga enam kali cerpen saya sebelum akhirnya dikumpulkan kepada panitia,” ujar anak dari pasangan M. Salehuddin dan Wahyuni tersebut.
Kecintaan Rosa terhadap dunia menulis sebenarnya telah tumbuh jauh sebelum dia menjadi mahasiswa.
Semasa duduk di bangku kelas VII SMP, dia mulai akrab dengan berbagai bacaan fiksi.
Baca Juga: Peringati Hari Puisi Sedunia, Komunitas Sauh Langit Gelar Lomba Baca Puisi Se-Madura
Deretan buku seperti Kecil-Kecil Punya Karya, novel-novel karya Andrea Hirata, dan tulisan Asma Nadia menjadi pintu masuk dia menyukai dunia literasi. Dari sana, imajinasinya mulai berkembang.
Gadis asal Desa Sukolilo Barat, Kecamatan Labang, itu juga pernah menulis fanfiction (fiksi penggemar) dengan tokoh Naruto.
Naruto yang dia tulis bukan sebagai ninja dari Konoha, melainkan sebagai pelajar yang hidup di kota modern.
Cerita sederhana itu menjadi salah satu latihan awalnya merangkai alur dan membangun karakter.
”Awalnya saya memang lebih banyak membaca cerita fiksi, terutama komik. Lama-kelamaan muncul keinginan untuk membuat cerita sendiri,” terangnya.
Kebiasaannya dalam membaca masih dipertahankan hingga saat ini. Selain novel, dia gemar membaca komik digital seperti Deadly 7 Inside Me, Aegis Orta, dan Black Haze.
Baginya, setiap bacaan menghadirkan cara berbeda dalam membangun karakter, konflik, dan emosi.
Kesempatan mengikuti Peksimida tahun ini datang setelah kampus melakukan seleksi internal.
Baca Juga: Tim KKN Tematik ITS Usung Tema Literasi untuk Anak Sekolah Dasar
Dia dipercaya menjadi wakil STKIP PGRI Bangkalan pada kategori penulisan cerpen.
Ada 27 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur yang mengikuti lomba tingkat provinsi itu, termasuk dirinya.
Menurut Rosa, kompetisi itu bukan semata-mata soal menjadi juara. Sejak awal, dia menjadikan lomba itu sebagai batu loncatan untuk mengukur kemampuannya dalam menulis cerpen serta belajar dari para penulis lain.
”Saya ingin tahu seberapa jauh kemampuan saya. Setelah ikut lomba, saya jadi tahu bagian mana yang masih harus diperbaiki dan dikembangkan,” ungkapnya.
Prestasi di Peksimida mungkin baru langkah awal. Namun, bagi Rosa, setiap cerita yang berhasil dia selesaikan adalah satu langkah lebih dekat menuju impian yang telah dia rajut sejak kelas VII SMP, yakni menjadi penulis. (ina/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti