BANGKALAN, RadarMadura.id – ”Yale yale aduh ghellàng soko, pajalanna neter kolenang, raddin koneng le raddin koneng, pamesemma ce' larangnga, pamesemma enga' bulan, bulan tanggal lema bellas.”
Inilah lirik lagu Madura yang menjadi inspirasi terbentuknya tari ghellàng soko karya Sudarsono.
Tabuhan musik tradisional menggema dari panggung di Jalan Letnan Abdullah, Bangkalan, Jumat (24/7) malam.
Cahaya lampu menyoroti setiap langkah penari yang bergerak lincah mengikuti irama.
Gemerincing gelang perak yang melingkari kaki penari berpadu dengan hentakan musik, menghadirkan harmoni yang memikat.
Tepuk tangan dan sorak penonton pun pecah ketika tari ghellàng soko ditampilkan dalam Festival Seni Tradisi Bangkalan 2026.
Di balik gerak yang rancak, tarian itu menyimpan pesan mendalam tentang perempuan Madura.
Ghellàng soko bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan media untuk menyampaikan pesan leluhur agar perempuan senantiasa menjaga martabat, sopan santun, dan tata krama dalam menjalani kehidupan.
Ghellàng berarti gelang, sedangkan soko artinya kaki.
Gelang kaki tersebut menjadi simbol bahwa perempuan Madura boleh melangkah ke mana pun, tetapi tetap terikat nilai-nilai yang menjadi pegangan hidup.
Baca Juga: Nikmati Sunset Epik dan Tarian Api di Pura Uluwatu, Tempat Wisata Paling Ikonik di Selatan Bali
Filosofi itulah yang terus dijaga agar tidak luntur di tengah perubahan zaman.
Dalam budaya Madura, anak perempuan sejak kecil lazim dikenakan gelang kaki (penggel).
Bukan semata sebagai perhiasan, melainkan sebagai simbol pengingat agar setiap langkah selalu berpijak pada norma agama, adat, dan nilai sosial.
Masyarakat Madura mengenal ungkapan atale, tape ta etalee, artinya terikat, tetapi tidak diikat.
Mereka diberi kebebasan, tetapi tetap memiliki batas-batas yang harus dijaga. Pesan itu pula yang dituangkan ke dalam tari ghellàng soko.
Maka, setiap gerakan tarian mengingatkan tentang perilaku perempuan dapat membawa kehormatan sekaligus menentukan keharmonisan keluarga maupun masyarakat.
Karena itu, sehebat apa pun perempuan Madura, mereka tetap diharapkan berjalan seiring dengan tuntunan agama dan nilai-nilai yang diwariskan para leluhur.
”Orang Madura itu bukan keras, tetapi tegas. Ketegasan itu tetap dibingkai dengan sopan santun dan rasa hormat,” ujar Sudarsono, pembina Sanggar Tarara sekaligus koreografer tari ghellàng soko.
Sudarsono menjelaskan, gerakan dalam tari ghellàng soko banyak terinspirasi dari aktivitas sehari-hari perempuan Madura.
Ada gerak yang lembut dan anggun, sesekali berubah menjadi tegas dan dinamis, menggambarkan karakter perempuan Madura yang mampu bersikap luwes sekaligus tangguh menghadapi kerasnya tantangan.
Beberapa gerakan menjadi ciri khas tarian ini. Salah satunya ketika para penari membentuk lingkaran, menepukkan tangan ke dada, lalu mendongakkan kepala.
Gerakan tersebut melambangkan kesadaran manusia untuk selalu mengingat Sang Pencipta.
Ada pula gerakan duduk sambil berjalan yang menggambarkan beratnya perjalanan hidup.
Artinya, setiap manusia dituntut memikul tanggung jawab dengan penuh kehati-hatian.
Secara keseluruhan, koreografi tari ghellàng soko dibangun melalui tiga karakter gerak.
Yakni, yakni gerakan lemah gemulai yang mencerminkan kelembutan perempuan, gerakan dinamis yang menunjukkan ketegasan, dan gerakan penuh tata krama sebagai simbol andhap asor atau sikap rendah hati.
Sudarsono mengungkapkan, penyusunan koreografi memerlukan waktu sekitar sebulan.
Tari itu diciptakan sekitar 2015, lima tahun sebelum pandemi Covid-19.
Untuk memperkuat makna, para penari mengenakan gelang kaki perak dan selendang sebagai properti utama.
Selendang dipilih karena melambangkan kelembutan, keanggunan, dan jati diri perempuan Madura.
Pelestarian tari ghellàng soko tidak cukup hanya melalui festival budaya.
Sanggar Tarara juga rutin menampilkan tarian tersebut dalam berbagai kegiatan, mulai acara sekolah hingga prosesi wisuda.
Dengan cara itu, generasi muda diharapkan tidak hanya mengenal gerak tari, tetapi juga memahami nilai-nilai luhur yang diwariskan di balik setiap langkah ghellàng soko. (ina/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti