Kios dan Los Pasar KLD Ditinggal Pedagang, Pedagang Minta Pemerintah Lakukan Terobosan

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 07:43 WIB
TAK TERAWAT: Kios Pasar Ki Lemah Duwur Bangkalan tidak terisi karena banyak pedagang pindah jualan, Kamis (23/7). (INA HERDIYANA/JPRM)
TAK TERAWAT: Kios Pasar Ki Lemah Duwur Bangkalan tidak terisi karena banyak pedagang pindah jualan, Kamis (23/7). (INA HERDIYANA/JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Pasar Ki Lemah Duwur (KLD) sempat digadang-gadang akan menjadi pasar induk di Bangkalan.

Namun faktanya, aktivitas masyarakat di pasar tradisional tersebut terus menurun. Tak heran banyak pedagang yang memilih meninggalkan los dan kiosnya.

Ketua Komisi II DPRD Bangkalan Hotib Marzuki mengaku telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) di pasar tradisional yang berlokasi di Jalan Halim Perdanakusuma tersebut.

Ternyata, pasar tersebut memang mulai ditinggalkan masyarakat.

Baca Juga: Dituntut Empat Tahun Penjara, ABH yang Terlibat Kasus Dugaan Rudapaksa Anak di Bawah Umur

Penyebabnya bervariatif, antara lain banyak masyarakat yang beralih belanja secara online.

Selain itu, Pasar KLD juga dinilai kurang strategis karena jauh dari pusat kota, minim sarana transportasi, dan kurangnya inovasi oleh pemerintah.

Kondisi tersebut juga diperparah dengan adanya aktivitas transaksi di Pasar Sorjan yang berlokasi di Jalan Panglima Sudirman Bangkalan.

Parahnya, pasar tersebut tidak dikelola pemerintah sehingga tidak menyumbang pendapatan kepada pemerintah.

Politikus PKB itu mendesak pemerintah bersikap tegas dengan adanya aktivitas ekonomi yang dinilai ilegal tersebut. Misalnya, dengan mengatur jam operasional pasar.

Misalnya, Pasar KLD buka dari malam sampai siang, sedangkan Pasar Sorjan buka dari siang sampai malam, sehingga antara pasar induk dan pasar yang lain sama-sama jalan.

Baca Juga: Debut di Indonesia, Huawei MatePad Pro Max Tawarkan Desain Paling Tipis dan Ringan di Kelasnya dengan Sertifikasi TÜV Rheinland Tahan Tekuk

Kepala Pasar KLD Moh. Lutfi mengeklaim telah melakukan sosialisasi kepada pedagang agar menempati kios yang sudah disediakan.

Namun, banyak pedagang tidak mengindahkan dan memilih berjualan di Pasar Sorjan di siang hari.

TRANSAKSI: Pedagang baju melayani pembeli di Pasar Ki Lemah Duwur Bangkalan Kamis (23/7). (INA HERDIYANA/JPRM)
TRANSAKSI: Pedagang baju melayani pembeli di Pasar Ki Lemah Duwur Bangkalan Kamis (23/7). (INA HERDIYANA/JPRM)

”Sekarang target pendapatannya sekitar Rp 1,5 miliar per tahun. Sedangkan pedagang banyak beralih ke Pasar Sorjan sehingga pembeli juga menurun,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskop Umdag) Bangkalan Moh. Rasuli mengaku telah melakukan beberapa cara agar Pasar KLD menjadi pusat ekonomi.

Antara lain, menambah pasar burung tiap Senin, Jumat, dan Rabu.  Namun, langkah itu tidak ada perkembangan siginifikan.

Pihaknya juga telah melakukan sosialisasi penertiban pasar ilegal di sebelah Masjid Agung Bangkalan.

Pihaknya juga akan berdialog bersama dewan dan perwakilan pedagang Pasar Sorjan agar bersedia untuk tetap berjualan di Pasar KLD.

Sementara itu, Erdiyanto selaku pedagang baju di Pasar KLD menyatakan, pemerintah harus memiliki terobosan dan langkah konkret untuk menjadikan KLD sebagai pusat ekonomi.

Sebab, output-nya bisa mendongkrak pendapatan untuk pemkab.

”Kalau lokasi khusus palawija tidak dipindah, pengunjung pasti lumayan banyak dan juga bisa mampir ke gerai kami, ucapnya. (ina/jup)

Editor : Hera Marylia Damayanti
pasar KLD mulai ditinggalkan pasar tradisional