Bangun Pendidikan Inklusif, UTM Gandeng TK ABA 9 Socah Wujudkan Bangkalan Peduli ABK

Hendriyanto • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 15:28 WIB
SUKSES: Sejumlah mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) FKIP UTM Bangkalan saat kegiatan sosialisasi dan edukasi anak berkebutuhan khusus (ABK) di TK ABA 9 Socah, Sabtu (18/7).
SUKSES: Sejumlah mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) FKIP UTM Bangkalan saat kegiatan sosialisasi dan edukasi anak berkebutuhan khusus (ABK) di TK ABA 9 Socah, Sabtu (18/7).

BANGKALAN, RadarMadura.id – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Trunojoyo Madura (UTM), memulai rangkaian kegiatan pengabdian melalui sosialisasi dan edukasi anak berkebutuhan khusus (ABK) di TK ABA 9 Socah, Bangkalan Sabtu (18/7).

UTM mendanai kegiatan tersebut melalui hibah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPPM) UTM dengan Skema Kemitraan Trunojoyo Mandiri (KTM).

Kegiatan tersebut menjadi langkah awal program bertajuk “Penguatan Sinergi Guru dan Orang Tua dalam Identifikasi dan Asesmen Dini Anak Berkebutuhan Khusus sebagai Dasar Intervensi Pembelajaran Inklusif dalam Mendukung Peningkatan Kualitas Pendidikan”.

Baca Juga: UTM Sukses Kembangkan Pertanian Melon, Pemkab Bangkalan Beri Apresiasi

Program ini bertujuan memperkuat kolaborasi guru dan orang tua dalam mengenali kebutuhan anak sejak usia dini.

Sebanyak 118 peserta yang terdiri atas guru dan wali murid TK ABA 9 Socah mengikuti kegiatan tersebut. Antusiasme peserta terlihat sejak awal hingga akhir acara melalui diskusi dan tanya jawab mengenai pentingnya deteksi dini ABK sebagai dasar pemberian layanan pendidikan yang tepat.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Siti Fadjryana Fitroh, S.Psi., M.A., menjelaskan masih banyak anak yang terlambat mendapatkan layanan karena proses identifikasi baru dilakukan ketika hambatan perkembangan semakin kompleks.

Karena itu, sinergi antara guru dan orang tua menjadi kunci penting dalam mengenali karakteristik perkembangan anak sejak usia dini.

"Identifikasi dini bukanlah upaya memberi label kepada anak, melainkan proses memahami kebutuhan dan potensi mereka agar memperoleh layanan pendidikan yang sesuai. Guru dan orang tua merupakan pihak yang paling dekat dengan anak sehingga kolaborasi keduanya menjadi fondasi utama dalam mewujudkan pendidikan inklusif yang berkualitas," ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, tim pengabdian memberikan pemahaman mengenai konsep dasar ABK, pentingnya identifikasi dan asesmen dini, serta indikator perkembangan yang perlu diwaspadai. Tim juga menjelaskan langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan guru dan orang tua untuk mengobservasi perkembangan anak.

Baca Juga: Evaluasi Tak Optimal, Aktivis Tuding Korwil dan Satgas MBG Pamekasan Tak Serius

Materi sosialisasi menekankan bahwa setiap anak memiliki hak memperoleh pendidikan sesuai kebutuhannya. Setiap anak juga berhak mendapatkan kesempatan untuk berkembang secara optimal tanpa diskriminasi.

Selain memberikan edukasi, kegiatan tersebut menjadi forum untuk menyampaikan rencana pelaksanaan program pengabdian selama beberapa bulan ke depan.

Program itu meliputi pelatihan identifikasi dan asesmen dini, pengembangan instrumen asesmen sederhana, pendampingan guru dan orang tua, parenting, Focus Group Discussion (FGD), serta monitoring dan evaluasi.

Kepala TK ABA 9 Socah Ustadah Orinda Oktavia Ningtyas, S.Pd., mengapresiasi kepercayaan UTM yang menjadikan sekolahnya sebagai mitra pelaksanaan program pengabdian.

Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan wawasan baru bagi guru dan orang tua dalam memahami perkembangan anak secara lebih komprehensif.

"Program ini luar biasa karena pertama ada pendampingan juga nantinya sehingga anak bisa mendapatkan haknya untuk dibantu dalam berkembang, dan yang kedua bisa membantu dalam pemetaan perkembangan anak. Kami berharap progam ini bisa berlajut tidak hanya sekali saja sehingga anak bisa memiliki haknya untuk berkembang secara optimal dan guru memahami penanganan pada anak yang membutuhkan bantuan lebih " ungkapnya.

Salah seorang wali murid, Ibu Usrotus Salama, S.Pdi., juga mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru setelah mengikuti sosialisasi tersebut.

Menurutnya, masih banyak orang tua yang menganggap keterlambatan perkembangan anak sebagai hal biasa sehingga enggan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

"Saya bersyukur adanya kegiatan ini yang mana diawali dengan screening, awalnya saya bingung mengapa itu perlu dilakukan namun akhirnya saya memahami bahwa itu digunakan untuk pemetaan agar anak bisa mendapat pendampingan yang sesuai, yang kedua sangat bagus untuk pendidikan orangtua karena banyak orangtua yang kurang paham emosi anak dan kegiatan home visit nanti ini sangat bagus, harapannya mungkin bisa ada program tambahan berupa program terapi" tuturnya.

Baca Juga: Bupati Cup Jadi Panggung Regenerasi Atlet

Melalui program tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat PGPAUD FKIP UTM berharap dapat membangun sistem kolaborasi berkelanjutan antara sekolah dan keluarga. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mendukung proses identifikasi dan asesmen dini ABK secara lebih terarah.

Sinergi antara guru dan orang tua diharapkan menjadi dasar penyusunan intervensi pembelajaran yang tepat. Dengan demikian, program tersebut dapat meningkatkan kualitas layanan pendidikan inklusif dan memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anak untuk berkembang sesuai potensinya. (*/dry)

Editor : Hendriyanto
FKIP UTM PGPAUD bangkalan utm Universitas Negeri Madura