BANGKALAN, RadarMadura.id – Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) terus memantapkan posisinya sebagai motor penggerak kemajuan di Pulau Garam.
Momentum emas itu terekam dalam gelaran UTM Research Summit 2026 yang mengusung tema Arah Kebijakan Nasional Riset, Inovasi, dan Hilirisasi Teknologi Menuju Indonesia Emas 2045.
Forum ilmiah yang dihelat di Aula Syaikhona Muhammad Kholil itu menjadi momentum penting bagi civitas academica UTM untuk menambah pengetahuan yang berharga.
Baca Juga: Pemkab Sumenep Perkuat Sinergitas dengan UTM, Sambut Baik Kuota Afirmasi Mahasiswa FK
Yakni, melalui penjelasan yang disampaikan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) RI Prof. Dr. Ir. Arif Satria.
Komitmen UTM dalam mengoptimalkan urusan riset dituangkan dalam penandatanganan kerja sama dengan BRIN.
Memorandum of understanding (MoU) itu diteken langsung Rektor UTM Prof. Dr. Safi’ dan Deputi Bidang SDM Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BRIN Edy Giri Rachman Putra.
Prof. Dr. Safi’ optimistis kerja sama yang dibangun dapat memberikan dampak konstruktif yang positif bagi internal kampus terbesar di Madura tersebut.
Juga bagi kemajuan masyarakat umum, khususnya warga Madura.
”Semoga MoU dan materi yang disampaikan ini membuat UTM semakin bermanfaat, maju, dan berdampak positif bagi kehidupan bangsa dan negara,” ungkapnya.
Baca Juga: Suzuki Saluto 125 2027 Tampil Makin Elegan, Skuter Bergaya Eropa Ini Bawa Warna Baru
Dia mengapreisasi dan berterima kasih setinggi-tingginya kepada Prof. Arif Satria yang turut mengawal kerja sama institusional tersebut.
Kemitraan tersebut diharapkan dapat mendongkrak performa para dosen dalam melaksanakan tridarma perguruan tinggi. Khususnya di bidang riset dan inovasi.
”Semoga dengan MoU ini bisa meningkatkan kinerja kami,” harap mantan Dekan Fakultas Hukum (FH) UTM tersebut.
Prof. Dr. Safi’ mengutarakan, efisiensi anggaran berimbas terhadap ruang gerak kampus di bidang riset.
Maka, hadirnya BRIN diharapkan bisa menjadi oase sekaligus solusi dalam hal pembiayaan dalam pelaksanaan riset.
”Semoga dengan kerja sama ini, teman-teman dosen juga mendapatkan alokasi anggaran untuk semua kegiatan riset,” ketusnya.
Kegiatan UTM Research Summit 2026 bertepatan dengan momentum dies natalis ke-25 kampus terbesar di Pulau Garam tersebut.
Di usia ke seperempat abad, kampus yang dinakhodai Prof. Safi’ tersebut mendapat kado istimewa dengan dioperasionalkannya Fakultas Kedokteran (FK).
”Ini kado spesial bagi kami, karena menjadi FK pertama dan satu-satunya di Madura,” tegasnya.
Baca Juga: Kegagalan adalah Hak Istimewa yang Tidak Dimiliki Semua Orang
Prof. Dr. Safi’ terus meminta para dosen agar tak lelah dalam melakukan penelitian.
Sebab, riset merupakan roh dari ilmu pengetahuan. Maka dengan riset, ilmu pengetahuan akan terus berkembang.
”Dari sana, akan tumbuh peradaban yang mengangkat harkat dan martabat manusia,” tambahnya.
Sementara Kepala BRIN RI Prof. Dr. Ir. Arif Satria mengaku sangat kepincut dengan atmosfer riset para akademikus di UTM.
Bahkan, dia mengacungi jempol temuan-temuan inovatif mahasiswa dan dosen yang dinilainya sangat aplikatif.
Salah satu yang paling menonjol adalah inovasi garam dan produk turunannya.
”Saya sangat bangga dengan hasil riset mahasiswa dan dosen UTM. Ini menunjukkan sirkular ekonomi di Madura akan terus berkembang,” Puji Arif.
Meski Madura dikenal sebagai pusat industri garam nasional, masih ada beberapa catatan strategis.
Maka, pihaknya mendorong analisis riset UTM tidak melulu mandek di urusan garam.
Potensi lokal lain juga harus disentuh, mulai dari sektor perikanan, rempah-rempah, jagung, hingga komoditas padi.
”Inovasi riset tentang garam ini memang harus dikembangkan, ini bagus sekali. Tetapi, ke depannya kompetensi dan kepedulian yang positif ini juga harus digeser ke sektor lain. Agar, kontribusi untuk kemajuan perekonomian Madura makin diperluas,” tandasnya. (za/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti