BANGKALAN, RadarMadura.id – Ikhtiar panjang Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) untuk memiliki Fakultas Kedokteran (FK) berakhir manis.
Kampus negeri terbesar di Pulau Garam ini resmi mengantongi izin penyelenggaraan Program Studi Kedokteran Program Sarjana dan Program Studi Profesi Dokter Program Profesi dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Kepastian itu tertuang dalam Keputusan Mendiktisaintek Nomor 610/B/O/2026. Dengan turunnya surat tersebut, FK UTM kini legal dan sah secara hukum untuk menyelenggarakan pendidikan kedokteran.
Kabar gembira ini menjadi tonggak sejarah baru. Tidak hanya bagi civitas academica UTM, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Madura.
Rektor UTM Prof Dr Safi’ tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya atas pencapaian besar ini.
Menurutnya, perjuangan kampus yang dia nakhodai selama ini tidak sia-sia.
Terutama dalam proses melengkapi seluruh persyaratan untuk mendirikan FK bukanlah perkara mudah dan membutuhkan proses yang melelahkan.
”Penantian panjang ini akhirnya membuahkan hasil yang manis. Kini UTM bisa menyelenggarakan pendidikan kedokteran,” ujarnya.
Mantan Dekan Fakultas Hukum UTM itu memaparkan, keberhasilan memikat hati kementerian tidak lepas dari kesiapan yang ditunjukkan kampus.
Ada tiga aspek utama yang menjadi instrumen penilaian ketat dan semuanya berhasil dipenuhi dengan baik oleh UTM.
Yakni, kualitas sumber daya manusia (SDM), kelayakan sarana dan prasarana (sarpras), serta kesiapan kurikulum pendidikan yang memadai.
”Tiga aspek penilaian itu telah kami penuhi dengan sempurna,” lanjutnya.
Ketiga aspek tersebut dinilai tim verifikasi sudah memenuhi standar nasional yang ditetapkan pemerintah.
Kesiapan dosen spesialis, laboratorium terpadu, hingga kurikulum yang adaptif dengan kebutuhan daerah menjadi nilai plus yang membuat izin operasional FK UTM akhirnya keluar tanpa hambatan berarti.
”Dosen dan kelengkapan sarana dan prasarana untuk pendirian fakultas kedokteran sudah dinilai lengkap dan layak,” tambahnya.
Mengawali langkah perdananya, FK UTM dipastikan langsung bergerak cepat.
Pada tahun akademik pertama ini, kampus yang terletak di Kecamatan Kamal, Bangkalan, tersebut akan membuka pintu bagi 50 mahasiswa baru.
Nantinya akan dibagi secara proporsional ke dalam dua kelas. Masing-masing kelas akan diisi oleh 25 mahasiswa.
”Kuota yang kami sediakan di awal pembukaan FK ini sebanyak 50 mahasiswa,” bebernya.
Prof Safi’ optimistis FK UTM akan menjadi instrumen penting dalam mendongkrak kualitas pendidikan dan derajat kesehatan di Pulau Madura.
Ke depan, keberadaan prodi ini diharapkan mampu menjawab kelangkaan sekaligus memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan (nakes) di empat kabupaten di Pulau Garam.
”Keberadaan FK UTM ini diharapkan bisa menjawab ketimpangan jumlah doker dengan masyarakat,” harapnya.
Seleksi 50 mahasiswa baru FK UTM untuk tahun akademik 2026/2027 hanya tersisa jalur mandiri.
Sebab, seleksi nasional berdasarkan prestasi (SNBP) dan seleksi nasional berdasarkan tes (SNBT) sudah selesai.
Seleksi melalui jalur mandiri tersebut nantinya akan dibagi menjadi tiga klasifikasi, yakni melalu nilai rapor dan menggunakan nilai UTBK, dan tes secara mandiri melalui computer based test (CBT).
”Waktu yang tersisa untuk kami melakukan penerimaan mahsiswa baru untuk FK hanya melalui jalur mandiri,” katanya.
Selain itu, jalur kemitraan dengan pemerintah daerah (pemda) juga menjadi peluang dalam seleksi mahasiswa baru FK UTM. Kata Safi’, kampus memberikan kesempatan kepada pemda untuk mengirimkan putra-putri terbaiknya untuk ikut seleksi.
Jika memungkinkan pihaknya menginginkan empat kabupaten di Madura secara simultan bisa terlibat dalam seleksi mahasiswa FK UTM tersebut.
”Harapnnya, setelah lulus, mahasiswa yang dibiayai oleh pemda ini bisa mengabdikan diri di daerahnya masing-masing,” tutupnya. (za/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti