BANGKALAN, RadarMadura.id – Fakultas Keislaman Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) menggelar forum akademik bertajuk International Guest Lecturer, Selasa (31/3).
Sosok yang dihadirkan dalam kegiatan itu adalah, pakar hukum Islam ternama dari Universiti Malaya, Malaysia, Imamuddin.
Acara yang dihadiri akademikus asal negeri jiran tersebut digelar di ruang Aula RKB C UTM. Tema yang diusung, Bridging Innovation: Sinergi Akademik Indonesia-Malaysia dalam Menghadapi Tantangan Global di Era Digital Perspektif Maqashid Syariah.
Kuliah tamu internasional itu menjadi momentum penting bagi mahasiswa dalam memperluas wawasannya. Khususnya, tentang kolaborasi lintas negara di Asia Tenggara.
Imamuddin menekankan bahwa inovasi digital di dunia akademik bukan sekadar adopsi teknologi.
Tetapi, menjadikan nilai-nilai keislaman sebagai kompas utama. Maka, sinergi antara Indonesia dan Malaysia dinilai sangat krusial.
Sebab, kedua negara memiliki akar budaya dan nilai keagamaan yang sama dalam menghadapi arus disrupsi global.
Kolaborasi riset dan pertukaran gagasan akademik diharapkan mampu melahirkan solusi yang tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga beretika secara moral sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.
Perspektif maqashid syariah menjadi roh utama dalam forum itu. Maqashid syariah yang mencakup perlindungan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta digunakan sebagai kerangka kerja untuk mengevaluasi dampak inovasi digital.
Maka, setiap kemajuan teknologi harus diukur dampak positif dan negatif yang ditimbulkan bagi umat manusia.
Terutama di tengah maraknya tantangan etika digital. "Seperti hoaks, privasi data, hingga kecerdasan buatan," ujarnya.
Imam menambahkan, dunia akademik memiliki tanggung jawab untuk memastikan transformasi digital tidak mencabut akar identitas masyarakat muslim.
Melalui kurikulum yang terintegrasi dan penelitian kolaboratif, antara universitas di Indonesia dan Malaysia, diharapkan lahir generasi yang kompeten dalam teknologi, sekaligus teguh dalam menjaga nilai-nilai maqashid syariah di kancah internasional. (*/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti