BANGKALAN, RadarMadura.id – Pada momen Lebaran, tidak semua perantau dapat merasakan kehangatan bersama keluarga di kampung halaman.
Tapi karena tuntutan pekerjaan, tidak jarang yang bertahan di perantauan. Seperti yang dialami oleh Aipda Asbiyah, anggota Polres Bangkalan.
Sejak 2019, Asbiyah berdinas di Polres Bangkalan. Sebelumnya, dia berdinas di Polda Jawa Timur, tepatnya mulai tahun 2013.
Dengan demikian, dia sudah 13 tahun merayakan Lebaran di tanah rantau. Hal itu, merupakan salah satu konsekuensi yang harus dijalani sejak menyandang predikat sebagai anggota polisi wanita (polwan).
Baca Juga: Ratusan Napi Rutan Kelas II-B Sampang Dapat Remisi Lebaran
”Ini bukan keinginan sendiri, tapi semata-mata bentuk pengabdian kepada negara. Jujur saja, belasan tahun saya terus belajar menata hati dan mental. Sebab, rasa rindu untuk berkumpul dengan keluarga di kampung itu pasti ada," ucap Asbiyah.
Menurutnya, sangat alamiah jika dirinya rindu berkumpul bersama keluarga tercinta di kampung halaman. Apalagi, di saat momen Lebaran. Dia menyakini hal itu juga diinginkan para perantau.
”Tapi apa boleh buat, ada tugas dan tanggung jawab negara yang harus saya tunaikan," kata perempuan asal Kota Ambon, Provinsi Maluku, itu.
Dijelaskan, jika mendapat izin dari pimpinan, Asbiyah tidak hanya ingin merayakan Lebaran bersama keluarga besar. Tapi, juga ingin berziarah ke makam ayahandanya di Kota Ambon.
”Sambil menangis, saya meminta maaf kepada ibu dan adik-adik di kampung. Sebab, belum mendapat kesempatan berlebaran di kampung halaman,” ungkapnya.
Baca Juga: Warga Sampang Tewas Ditabrak Truk Tronton
Meski belum bisa berlebaran di tanah kelahirannya, Asbiyah menyatakan senantiasa mendoakan orang tua dan saudaranya.
"Rindu ini selalu diselipkan dalam doa. Semoga keluarga besar di Ambon senantiasa diberi kesehatan, umur panjang, bahagia, dan mendapat limpahan rezeki. Semoga tahun depan saya diberi kesempatan berlebaran bersama keluarga," harap Ps. Paurmin Bagren Polres Bangkalan itu.
Asbiyah mengungkapkan, saat takbir berkumandang, setiap perantau tentunya langsung teringat dengan keluarga di kampung halaman. Rasa rindu dan sedih campur aduk.
”Kalau ingat saat malam takbiran, air mata tidak terasa jatuh menetes. Saya rela jauh dari keluarga karena sedang memperjuangkan masa depan yang lebih baik," tegasnya.
Untuk mengurangi kadar rindu, lanjut Asbiyah, melakukan panggilan video atau video call menjadi solusi yang solutif.
Meski tidak bisa bersentuhan secara fisik, dia tetap bersyukur ketika melihat orang tua dan saudaranya dalam keadaan sehat.
”Saya lama tidak mencicipi masakan buatan ibu, salah satunya Buras dan Coto Makassar,” paparnya.
Baca Juga: Ratusan Peserta Meriahkan Festival Ketupat di Pantai Lombang, Sumenep
Asbiyah terakhir pulang ke Kota Ambon pada tahun 2017 lalu. Tapi, tidak dalam suasana Lebaran.
”Kalau sudah rindu akut, biasanya ibu yang berkunjung ke Kota Zikir dan Salawat. Orang tua memahami, tugas negara harus dilaksanakan dengan baik. Apalagi, saya masih urus anak,” tutur perempuan yang dikaruniai empat anak itu," ucapnya.
Dia mengungkapkan, ada beberapa pertimbangan kenapa jarang pulang ke Kota Ambon.
Selain faktor pekerjaan, suaminya juga tidak mudah mengantongi izin dari pimpinan di TNI Angkatan Darat (AD).
”Tidak bisa kalau cuma pulang sebentar. Kalau naik kapal laut dari Surabaya tujuan Ambon bisa seminggu lebih, waktu habis di jalan," tandasnya. (za/yan)
Editor : Hera Marylia Damayanti