BANGKALAN, RadarMadura.id – Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) mengutus delapan mahasiswa untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Kemanusiaan di Aceh.
Senin (26/1) didampingi dua dosen pendamping, mereka berangkat ke Aceh dalam misi kemanusiaan untuk membantu dan meringankan beban para korban.
Mahasiswa yang dipercaya menjadi perwakilan UTM ke Desa Paya Rabo Lhok, Aceh Utara, tersebut sudah dinyatakan lulus seleksi administrasi dan wawancara. Mereka akan melaksanakan pengabdian di Aceh selama dua bulan.
Rektor UTM Prof Safi' mengatakan, ada beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan oleh para peserta KKNT Kemanusiaan di Aceh.
Salah satunya, penyediaan air bersih. Oleh karena itu, UTM juga membawa produk penjernih air ke Aceh Utara.
”Ada delapan produk penjernih air yang kami bawa ke Aceh. Sebab, sampai saat ini di sana masih kesulitan untuk mendapatkan air bersih,” ujarnya.
Menurut dia, tim KKNT juga dibekali keahlian untuk memanfaatkan limbah banjir agar bisa bernilai ekonomis.
Misalnya, tanah diolah menjadi batu bata. Peserta juga akan ikut mendistribusikan bantuan yang disalurkan oleh para donatur, baik berupa barang maupun uang.
”Dua bulan para peserta KKNT Kemanusiaan ini tinggal di Paya Rabo Lhok Aceh Utara,” paparnya.
Dijelaskan, para peserta yang siap mengabdikan dirinya dalam misi kemanusiaan ini tidak sendirian.
Mereka akan berkolaborasi dengan mahasiswa Universitas Malikussaleh (Unimal) dalam menjalankan tugasnya sebagai relawan.
”Semoga kehadiran mereka (peserta KKNT) dapat meringankan beban para korban terdampak bencana,” harapnya.
Ditambahkan, program tersebut juga sejalan dengan program Kementerian Pendidikan.
Karena itu, beberapa mahasiswa UTM sedang mendaftar untuk mengambil bagian menjadi relawan.
”Tidak menutup kemungkinan akan ada peserta KKNT kloter kedua,” paparnya.
Kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM), salah satu peserta KKNT Candra Nova Putri mengaku tertarik untuk menjadi relawan ke Aceh.
Sebelumnya, perempuan asal Kabupaten Gresik itu memiliki pengalaman menjadi relawan bencana di Bangkalan dan di Palu, Sulawesi Tengah.
Dengan berbekal pengalaman itu, mahasiswi semester 6 program studi pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UTM tersebut merasa terpanggil untuk mengambil bagian menjadi relawan.
”Tak masalah merayakan Lebaran di Aceh. Ini panggilan hati saya,” tandasnya. (za/yan)
Editor : Hera Marylia Damayanti