BANGKALAN, RadarMadura.id – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mental Institut Bahri Asyiq (Instiba) menggelar seminar nasional dan dies natalis ke-10, Sabtu (3/1).
Tema yang diusung yakni, LPM di Tengah Era Post Truth, Antara Fakta, Opini, dan Tanggung Jawab Sosial.
Pemateri yang dihadirkan yakni Redaktur Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Jupri. Serta Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bangkalan Mahmud Ismail.
Puluhan mahasiswa yang hadir dalam acara itu antusias mengikuti seminar yang digelar di Aula Muchlis Bahri tersebut.
Rektor Instiba Muksin mengapresiasi terselenggaranya seminar yang diinisiasi LPM mental. Pihaknya berharap lahir penulis-penulis berkualitas dari kampus yang dia nakhodai
"Juga lahir wartawan-wartawan hebat yang tunduk pada kode etik jurnalistik (KEJ)," ujarnya.
Letak geografis kampus yang dipimpin memang jauh dari kebisingan kota. Namun, itu bukan hambatan untuk melahirkan penulis-penulis produktif yang berkualitas.
Sebab, banyak tokoh penulis andal yang lahir dari ruang sempit yang jauh dari gemerlap dunia.
"Seperti Pramoedya Ananta Toer, yang melahirkan karya-karya dari balik penjara," imbuhnya.
Tema yang diangkat dalam seminar juga sangat relevan dengan kondisi saat ini.
Di tengah derasnya arus teknologi, publik kerap terjebak dalam menerima informasi karena tidak bisa membedakan antara informasi yang bersifat fakta dan hoaks.
Sementara Redaktur JPRM Jupri menilai, peran lembaga pers sangat strategis di era post truth.
Sebab, produk jurnalistik dapat menjadi pencerah setiap informasi yang berkembang di ruang-ruang publik. Utamanya media sosial (medsos).
"Maka, lembaga pers, termasuk LPM Mental, harus bisa menjadi pencerah agar masyarakat tidak menjadi korban dari informasi yang tidak jelas. (jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti