BANGKALAN, RadarMadura.id – Cikal bakal berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) tergambar nyata dalam acara Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU.
Kegiatan ini digelar dengan berjalan kaki dari Kabupaten Bangkalan menuju Jombang, Minggu (4/1).
Seribu orang mengikuti napak tilas yang dimulai dari Pondok Pesantren (Ponpes) Syaikhona Kholil. Mereka berasal dari berbagai penjuru dan elemen masyarakat.
Proses pelepasan disaksikan berbagai tokoh. Mulai dari pejabat publik, zuriah Syaikhona Muhammad Kholil hingga Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf.
Ketua Komisi D DPRD Jatim Abdul Halim turut berjalan bersama peserta.
Politikus Gerindra itu melebur bersama rombongan napak tilas melakukan long march dari Ponpes Syaikhona Muhammad Kholil menuju Pelabuhan Kamal.
”Dengan cara ini kita bisa tahu sejarah berdirinya Jam'iyah NU yang saat ini menjadi benteng dan pemersatu bagi NKRI,” ujar Halim.
Terdapat beberapa rute yang dilalui rombongan napak tilas. Antara lain, makam Sunan Ampel, Kantor PCNU Bubutan Surabaya, dan berangkat ke Jombang melalui Stasiun Gubeng Surabaya.
”Tujuan akhir dari napak tilas ini adalah Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng Jombang,” katanya.
Alumnus Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Situbondo itu menambahkan, NU bukan sekadar organisasi keagamaan terbesar di tanah air.
NU juga menjadi perekat dan benteng keutuhan bagi bangsa Indonesia.
”NU berandil besar untuk bangsa Indonesia sejak pra kemerdekaan. Bahkan, sikap NU hubbul wathan minal iman (cinta tanah air bagian dari iman),” sambungnya.
Sementara Bupati Bangkalan Lukman Hakim mengapresiasi terselenggaranya acara Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU.
Itu bagian dari ikhtiar mulia dalam merawat sejarah perjuangan ulama dan meneguhkan nilai-nilai keislaman.
”Semoga napak tilas ini membawa berkah dan menginspirasi generasi penerus dalam melanjutkan nilai-nilai perjuangan NU,” tuturnya. (jup/bil)
Editor : Hera Marylia Damayanti