BANGKALAN, RadarMadura.id – Madura Awards (MA) kembali digelar untuk ke-11 kalinya. Namun tahun ini, Jawa Pos Radar Madura (JPRM) menghadirkan wajah baru. Konsep penghargaan dibuat berbeda, lebih tajam, lebih relevan, dan lebih membumi.
Yakni, fokus sepenuhnya pada apresiasi industri hasil tembakau (IHT) yang selama puluhan tahun menjadi nadi ekonomi masyarakat Pulau Garam. Tema MA tahun ini, ”Tembakau Madura Menyejahterakan”.
Ajang tahunan yang diprakarsai JPRM ini menempatkan para pelaku tembakau. Mulai dari petani, pekerja gudang, pengusaha rokok, hingga perusahaan industri sebagai tokoh utama. Mereka yang selama ini bekerja dalam senyap, kini mendapat panggung kehormatan.
Tak seperti tahun-tahun sebelumnya yang merentang pada banyak sektor pembangunan, Madura Awards 2025 memusatkan sorotan pada satu sektor tembakau. Sebuah keputusan yang dinilai tepat momentum, mengingat dinamika IHT yang semakin strategis, baik secara ekonomi maupun sosial.
Manager Event JPRM Mohammad Sugianto menyatakan, penghargaan tahun ini lahir dari kebutuhan untuk menempatkan pelaku tembakau secara proporsional dalam kontribusinya terhadap Madura.
”Kami ingin menunjukkan bahwa tembakau bukan sekadar komoditas. Ia adalah sumber penghidupan, tradisi, dan kesejahteraan masyarakat Madura dari generasi ke generasi. Karena itu, tahun ini kami memberi panggung penuh dari hulu sampai hilir. Yakni, kepada mereka yang selama ini menjadi tenaga utama industri tembakau,” lanjutnya.
Panitia MA menyiapkan sejumlah kategori yang merangkum seluruh rantai nilai tembakau. Di antaranya, penghargaan akan diberikan kepada petani dan pekerja tembakau yang dianggap inspiratif dan berkontribusi pada praktik budi daya berkelanjutan.
Selain itu, kepada pengusaha rokok skala kecil hingga besar yang memberi dampak nyata bagi lapangan kerja lokal. Juga, perusahaan industri hasil tembakau yang dinilai memberikan inovasi, keberlanjutan, dan kontribusi kesejahteraan bagi masyarakat Madura.
Penghargaan ini juga menjadi cara JPRM mengapresiasi ekosistem ekonomi yang puluhan tahun tumbuh secara organik di empat kabupaten: Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.
Tembakau Madura memiliki reputasi global. Aromanya khas, bentuknya unik, dan kualitasnya disegani industri kretek nasional. Namun, lebih jauh dari itu, tembakau telah menjadi jangkar ekonomi puluhan ribu kepala keluarga.
Madura Awards ke-11 ingin mengembalikan narasi itu ke panggung publik: tembakau bukan masalah, tembakau adalah masa depan bila dikelola dengan bijak. ”Kami menggelar penghargaan ini untuk memberikan keadilan panggung. Selama ini banyak tokoh tembakau bekerja jauh dari sorotan media, padahal dampaknya sangat besar terhadap kesejahteraan Madura. Kini saatnya mereka kita angkat ke permukaan.” kata Sugianto.
Lebih lanjut dia menambahkan, ajang ini tidak berhenti pada seremoni. JPRM juga menyiapkan liputan mendalam, serial feature, dan ruang diskusi tentang masa depan IHT. Tujuannya, agar penghargaan ini memicu ekosistem yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Dengan fokus yang lebih tegas, Madura Awards ke-11 tidak hanya menjadi panggung apresiasi, tetapi juga ruang refleksi agar tembakau bisa terus menjadi sumber kesejahteraan tanpa meninggalkan kearifan lokal.
Di tengah banyaknya perdebatan tentang industri tembakau, Radar Madura memilih sudut pandang yang realistis: memahami tembakau sebagai denyut ekonomi masyarakat. Melalui Madura Awards edisi khusus ini, para pelaku tembakau akhirnya mendapat apresiasi setimpal.
”Selama masih ada petani yang bekerja dari subuh, pekerja gudang yang menggantungkan hidupnya, dan pengusaha lokal yang membuka lapangan kerja, maka tembakau akan selalu menjadi bagian dari kesejahteraan Madura,” katanya. (gik/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti