BANGKALAN, RadarMadura.id – Polemik distribusi pupuk bersubsidi di Desa Kelbung, Kecamatan Sepulu, tidak hanya berkaitan dengan harga penebusan di atas harga eceran tertinggi (HET). Tetapi, juga masalah ketersediaan stok. Sebab, banyak petani yang belum mendapatkan pupuk bersubsidi.
Pengurus Poktan Mandiri II Desa Kelbung Rohim mengutarakan, kios yang menjadi penyalur pupuk bersubsidi di desanya adalah Tri Al-Barokah. Di musim tanam seperti sekarang, semua petani membutuhkan pupuk.
Tetapi, ternyata tidak semua petani dapat melakukan penebusan. Alasannya, stok pupuk di kios Tri Al-Barokah sudah habis. Sehingga, petani yang telanjur datang ke kios harus balik kanan. ”Masih banyak yang tidak kebagian,” imbuhnya.
Padahal, pupuk yang didistribusikan ke kios Tri Al-Barokah mencapai belasan ton dalam kurun waktu kurang 10 hari terakhir. Maka, aneh jika banyak petani yang tidak kebagian pupuk subisidi dengan alasan kehabisan stok.
”Distribusi pupuk itu kan berdasarkan rencana definitif kebutuhan kelompok. Tetapi, jika saat petani mau melakukan penebusan (di kios) pupuknya tidak ada, kan jadi tanda tanya,” imbuhnya.
Kabid Prasarana dan Sarana Pertanian Dinas Pertanian Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan (DP2KP) Bangkalan CHK Karyadinata memaparkan, penebusan pupuk bersubsidi selama Oktober mencapai ribuan ton. Perinciannya, 3.600 ton pupuk urea dan 1.900 ton jenis NPK.
”Jadi, distribusi pupuk selama Oktober ini sudah sangat maksimal sekali,” ujarnya.
Saat ini distribusi pupuk yang masuk ke Kabupaten Bangkalan 200 ton per hari. Jumlah tersebut disebar oleh distributor sesuai wilayah kerjanya masing-masing. ”Maka, tidak ada lagi alasan petani kesulitan mendapatkan pupuk,” sambungnya.
Pihaknya meminta masyarakat melapor jika masih ada petani yang kesulitan mendapat pupuk bersubsidi. Termasuk, jika harga penebusan di kios tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan pemerintah. ”Laporkan, kami akan kroscek ke lapangan,” pintanya.
Pemilik kios Tri Al-Barokah Sidah mengeklaim mempermudah petani melakukan penebusan pupuk. Dia membantah informasi adanya petani yang tidak mendapat pupuk bersubsidi. ”Gudang (penyimpanan pupuk) selalu kami buka. Jadi selama ketersediaan ada, silakan (lakukan penebusan),” ujarnya.
Namun, perempuan berhijab itu mengakui ketersediaan pupuk di kiosnya kerap kembang-kempis. Sebab, terkadang pengiriman pupuk dari distributor ke gudang kiosnya telat. (jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti