BANGKALAN, RadarMadura.id – Gedung Pertemuan RP Moch. Noer Universitas Trunojoyo Madura (UTM) tidak seperti biasanya Sabtu (25/10). Ribuan mahasiswa dan warga Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) memadati gedung megah bernuansa putih tersebut. Mereka akan mengikuti talk show Gender Awareness.
Hadir dalam kegiatan itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia Arifah Fauzi.
Kemudian, anggota Komisi VIII DPR RI Ansari sebagai narasumber talk show bertema Generasi Sadar Gender Saatnya Bicara, Saatnya Bergerak. Bupati Bangkalan Lukman Hakim beserta Wakil Bupati Moch. Fauzan Ja’far juga ikut serta dalam kegiatan tersebut.
Rektor UTM Prof Safi’ dalam sambutannya mengaku bangga institusi yang dia pimpin bisa dikunjungi oleh Menteri PPPA.
Bukan hanya sekadar berkunjung, namun juga memberikan arahan dan materi tentang pentingnya membangun harmoni sosial, tanpa diskriminasi dan kekerasan.
”Ini suatu kebanggaan dan kehormatan bagi UTM karena dihadiri oleh Menteri PPPA,” ungkapnya.
Safi’ menambahkan, UTM terus bergerak cepat untuk mendapatkan perhatian dari pemerintah RI. Dia berharap dengan kehadiran Menteri PPPA bisa menambah perhatian pemerintah pusat terhadap kampus yang dia pimpin.
”Semoga dengan kehadiran Ibu Menteri bisa menambah kecintaan pemerintah RI kepada UTM,” harapnya.
Tidak hanya itu, mantan dekan fakultas hukum (FH) UTM itu juga menyatakan, UTM terus berikhtiar untuk meningkatkan prestasi kampus yang dia nakhodai, sehingga meraih predikat unggul.
Hanya, kampus yang berada di ujung barat Pulau Madura itu diterpa isu tidak sedap yang berkaitan dengan perilaku mahasiswa.
”Khususnya yang berkaitan dengan kekerasan dan pelecehan seksual,” tambahnya.
Oleh sebab itu, UTM gencar melakukan mitigasi dan pencegahan untuk mengantisipasi kekerasan dan pelecehan seksual.
Termasuk, kehadiran Menteri PPPA diharapkan dapat memberikan selayang pandang untuk mengantisipasi hal-hal yang berkaitan dengan kekerasan dan pelecehan seksual.
”Kami punya keyakinan dengan arahan Ibu Menteri dan anggota Komisi VIII DPR RI akan berkontribusi terhadap kesadaran civitas academica UTM, tentang pentingnya relasi sehat dan berkeadilan,” pungkasnya.
Sementara Menteri PPPA Arifah Fauzi menyampaikan, penanggulangan kekerasan kampus sudah memiliki regulasi tersediri.
Di samping itu, di masing-masing kampus juga memiliki satuan tugas (satgas) pencegahan dan penanganan kekerasan. Ada mekanisme pengaduan apabila terjadi kekerasan di lingkungan kampus.
”Hanya saja saat ini masih banyak yang belum bicara, ini harus kita kampanyekan bersama,” tandasnya. (za/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti