BANGKALAN, RadarMadura.id – Di tengah maraknya kedai kopi modern dengan konsep kekinian dan racikan ala barista profesional, angkringan Gubuk Kopi justru hadir dengan tampilan berbeda.
Warkop yang yang baru dirintis sejak Mei 2025 ini benar-benar menyuguhkan suasana tempat ngopi yang sederhana, tapi penuh cita rasa serta nuansa tradisional.
Konsepnya yang unik berhasil menarik perhatian masyarakat yang rindu akan suasana tempo dulu.
”Saya pribadi emang suka konsep klasik. Lebih nyaman dan bisa bernostalgia,” kata pemilik angkringan Gubuk Kopi, Sinweni.
Warung kopi (warkop) yang berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta ini memang sengaja mengusung misi melestarikan budaya minum kopi khas Indonesia, secara khusus Madura.
Proses penyajiannya pun masih dengan cara penyeduhan tradisional. Tanpa mesin espreso atau alat modern lainnya.
Kopi yang dipilih asli dari Bangkalan. Yakni, berasal dari Desa Lembung Gunong, Kecamatan Kokop. Sehingga, cita rasa yang dihadirkan benar-benar otentik dan khas.
”Menu andalannya kopi, kopi lokal Bangkalan, yang dikenal dengan kopi gubuk,” tuturnya.
Pria yang akrab disapa Wiji ini mengaku keinginannya membuka usaha warung kopi sudah muncul sejak masih menjadi mahasiswa baru. Sebab, saat itu dirinya hobi ngopi.
Hal ini yang menjadi salah satu motivasi terbesarnya. Di samping itu juga, untuk belajar membuka bisnis secara mandiri dimulai dari hal-hal yang sederhana.
”Setelah lulus kuliah, tiga bulan pasca wisuda, baru bisa kesampaian untuk membuka warung kopi,” ujar pria asal Desa Lembung Gunong, Kecamatan Kokop itu.
Sementara nama gubuk sendiri terinspirasi saat membentuk sebuah komunitas diskusi Gubuk Cogito semasa kuliah. Dari pengalaman itu, muncul ide untuk memberi nama Gubuk pada warkop impiannya.
Dia ingin tempat ngopi miliknya tak hanya tempat nongkrong. Tapi, juga punya nuansa intelektual dan terbuka untuk ruang bertukar pikiran.
”Di Bangkalan kota kayaknya belum ada warkop yang dikonsep gubuk, kebanyakan coffee shop,” sebutnya.
Alumnus STKIP Bangkalan ini mengaku, tantangan terbesar ketika awal merintis usahanya adalah masalah finansial. Mengingat, saat itu baru lulus kuliah, sehingga cukup kebingungan cari modal usaha.
Selain itu, tantangan lain adalah rasa jenuh. Namun, dia pantang menyerah dan selalu berpegang pada prinsip konsisten menjalani proses.
Dengan terus menjaga kualitas dan mempertahankan konsep tradisional, mahasiswa pascasarjana Unesa Surabaya itu yakin inovasi tidak selalu berarti modernisasi.
Baginya, Angkringan Gubuk Kopi bukan sekadar tempat minum kopi, tapi ruang untuk melestarikan cerita lama di antara hiruk pikuk dunia baru.
”Kopi lokal atau tradisional bisa bersaing dengan kopi luar. Bergantung pemuda Bangkalan bagaimana untuk membudayakan kopi lokal tersebut. Apalagi lidah-lidah orang Bangkalan ini lebih suka kopi-kopi lokal atau tradisional,” pungkasnya. (lil/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti