BANGKALAN, RadarMadura.id – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bangkalan akan mendaftarkan nasi serpang dan topa’ ladha ke Kementerian Kebudayaan RI sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) Indonesia. Kuliner khas Bangkalan itu diharapkan bisa menyusul tongkos, Topeng Patenteng Modung, dan Batik Gentong Tanjung Bumi yang tahun ini telah ditetapkan sebagai WBTB Indonesia.
Kabid Kebudayaan Disbudpar Bangkalan Hendra Gemma Dominant mengatakan, langkah ini diklaim sebagai bagian dari upaya dan keseriusan pemkab dalam mengimplementasikan empat pilar undang-undang pemajuan kebudayaan.
”Tak menutup kemungkinan akan terus bertambah. Kami akan berembuk dengan para tokoh masyarakat, pemerhati budaya dan sejarah,” katanya.
Gemma menyatakan, proses pengajuan nasi serpang dan topa’ ladha sudah memasuki kajian tahap awal. Setelah kajian ilmiah selesai, baru kemudian akan ditampilkan dalam bentuk film dokumenter. Selanjutnya baru mengajukan proposal. Sebab, antara kajian ilmiah dan visualisasinya harus balance.
”Pendaftaran untuk tahun 2026 belum dibuka, biasanya menjelang akhir tahun,” tuturnya.
Menurut Gemma, proses pendaftaran WBTB Indonesia memang tidak semudah membalik telapak tangan. Ada proses panjang yang harus dilalui. Waktu yang dibutuhkan setidaknya minimal dua tahun.
”Pendaftaran pada tahun pertama akan dicatat. Sedangkan pendaftaran tahun kedua baru dilakukan penetapan,” ucapnya.
Budayawan Bangkalan Hidrochin Sabarudin mengapresiasi langkah pemerintah dalam melestarikan serta mengembangkan kuliner khas Bangkalan. Buktinya, dengan mendaftarkan dua kuliner khas sebagai WBTB Indonesia.
”Nasi serpang dan topa’ ladha merupakan identitas dan kearifan lokal, semoga nanti semakin dikenal luas oleh masyarakat,” harapnya.
Pria yang akrab disapa Aba Doink itu minta pemerintah membuat road map yang jelas ke depan. Artinya, harus ada langkah konkret dalam upaya pelestarian budaya. Mulai dari pengembangan, pemanfaatan, hingga pembinaan.
”Jadi tidak hanya sekadar diusulkan, ditetapkan, lalu dianggap sudah selesai. Tapi, juga diwariskan kepada generasi muda,” pungkasnya. (lil/yan)
Editor : Hera Marylia Damayanti