BANGKALAN, RadarMadura.id – Universitas Trunojoyo Madura (UTM) kembali menunjukkan komitmennya untuk mencegah kekerasan di dalam dan luar kampus. Jumat (10/10), universitas terbaik di Pulau Madura itu melakukan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) dan memorandum of agreement (MoA) dengan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan).
Pada kesempatan itu, UTM juga melakukan MoU dengan Dewan Pembangunan Madura (DPM). Tujuannya, untuk membangun sinergi dalam membangun Madura dan generasi bangsa tanpa kekerasan. Mulai dari rumah tangga, relasi sosial, dan seluruh sendi kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara.
”Ini ikhtiar kampus dalam proses membentuk kepribadian seluruh civitas academica agar benar-benar menjadi pribadi yang bermanfaat, jadi solusi, dan juru damai dalam kehidupan sosial masyarakat. Membangun secara fisik penting, tapi lebih penting membangun jiwa dan mental,” kata Rektor UTM Prof Safi’.
Selain melakukan penandatanganan nota kesepahaman, dalam kegiatan yang diadakan di Aula Syaikhona Muhammad Kholil lantai 10 Graha Utama itu, Komnas Perempuan juga mengadakan kuliah umum bertajuk Sosialisasi Stop Kekerasan di Lingkungan Kampus.
”Agar apa yang di-MoU-kan tidak hanya ada dalam teks tertulis, tapi juga tersampaikan,” tuturnya.
Ketua Komnas Perempuan Dr Maria Ulfah Anshor menyambut baik dan berterima kasih telah diberi kesempatan dan peluang bersinergi dalam mencegah terjadinya kekerasan di kampus.
Dia menegaskan, tidak boleh ada kekerasan, termasuk kekerasan seksual di kampus mana pun.
”Penghentian kekerasan harus diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan. Kalau di kampus berarti masuk di MKDU (mata kuliah dasar umum, Red). Jadi tidak bisa dianggap sesuatu yang berdiri sendiri,” pungkasnya. (lil/yan)
Editor : Hera Marylia Damayanti