Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Geliat Tanam Tembakau Meningkat

Amin Basiri • Senin, 6 Oktober 2025 | 19:43 WIB
PENGERINGAN: Saruji, warga Dusun Lantong, Desa Larangan Glintong, Kecamatan Klampis, sedang milihat kualitas tembakau sebelum dikirim ke gudang, Sabtu (4/10).
PENGERINGAN: Saruji, warga Dusun Lantong, Desa Larangan Glintong, Kecamatan Klampis, sedang milihat kualitas tembakau sebelum dikirim ke gudang, Sabtu (4/10).

BANGKALAN, RadarMadura.id– Geliat petani untuk menanam tembakau di Kabupaten Bangkalan terus meningkat. Salah satunya di Dusun Lantong, Desa Larangan Glintong, Kecamatan Klampis.

Ketua Poktan Teppa' Wijaya Muyassir Isma'il menyatakan, tahun 2024 luasan lahan yang dijadikan uji coba untuk pertanian tembakau hanya setengah hektare. Namun karena keuntungannya menggiurkan, luas tanam tahun ini meningkat.

”Sekarang sekitar 3,5 sampai 4 hektare. Targetnya, uji coba dari dinas itu satu hektare. Tapi, masyarakat di sini antusias, inisiatif tanam sendiri,” kata Muyassir, Sabtu (4/10).

 Tembakau membutuhkan perawatan yang cukup ekstra. Tanaman musiman ini tidak terlalu butuh air yang banyak. Bahkan, saat dilanda hujan, kualitasnya akan buruk.

”Kalau cuaca normal, seminggu pertama setiap hari disiram. Minggu selanjutnya menyesuaikan dengan kondisi tanaman,” sebutnya.

 Petani tembakau di Bangkalan tergolong baru. Hasil produksi dipajang sendiri secara berkelompok. Sehingga saat dikirim ke gudang pembelian di Pamekasan dan Sumenep, biaya lebih murah.

Di samping itu juga belum ada pedagang yang berani membeli tembakau saat masih di sawah. ”Sewa pikap Rp 600 ribu.

Kalau Cuma dua bal rugi, jadi nunggu punya temannya. Minimal sepuluh bal untuk melakukan pengiriman,” tegasnya. 

Muyassir khawatir kalau di Bangkalan tidak ada gudang pembelian hasil panen tembakau, karena petani akan enggan menanam.

Oleh sebab itu, pihaknya berharap pemerintah dapat memfasilitasi berdirinya gudang pembelian di Bangkalan.

”Dulu kalau musim kemarau, tanah di sini tidak menghasilkan apa-apa. Alhamdulillah dua tahun terakhir bisa ditanami tembakau.

Tapi kalau pemerintah tidak menyediakan gudang pembelian, satu dua tahun ke depan tidak ada peminatnya,” sebutnya.

  Selama ini, petani tembakau menjual hasil panennya ke wilayah Pamekasan atau Sumenep. Sebab, hanya di dua kabupaten tersebut banyak tersedia gudang pembelian tembakau kering.

”Bayangkan ongkosnya berapa? Kalau di Bangkalan ada, akan lebih murah biaya transportasinya. Ini bisa memantik masyarakat untuk terus memanfaatkan lahannya di saat musim kemarau,” sebutnya. 

Jenis tembakau yang ditanam petani di Dusun Lantong cukup beragam. Artinya, belum memiliki varietas unggulan tertentu yang bisa menjadi pembeda dari tembakau yang dihasilkan daerah lain.

Ada lima jenis tembakau yang ditanam petani. Yakni, prancak 95, melati tompang, obor, cangkring, dan manila. Saat dirajang berbagai jenis tembakau itu dipadukan sehingga menghasilkan rajangan yang baik. 

Mukai dari segi berat, warna, aroma, tekstur, dan lain sebagainya. ”Nunggu lima tahun tanah di sini cocoknya untuk bibit varietas. Jadi kami belum bisa menentukan tahun ini,” ujarnya.

Kabid Pertanian DP2KP Bangkalan Abu Said mengeklaim, ada enam hektare lahan yang menjadi pilot project pengembangan tembakau di Kota Salak.

Satu hektare satu kelompok tani yang tersebar di Kecamatan Klampis, Tanjungbumi, Burneh, Kwanyar, Blega, dan Kokop.

 Langkah itu diharapkan dapat menggiatkan pertanian tembakau di Kabupaten Bangkalan. Sehingga, ke depan para kelompok tani yang sudah mendapat pendampingan dapat menularkan ilmunya dengan petani yang lain. 

”Kalau misalnya ke depan lahan pertanian tembakau bisa diakomudasi lebih banyak lagi, ini otomatis dampaknya terhadap masyarakat Bangkalan,” pungkasnya. (lil/jup) 

Editor : Amin Basiri