BANGKALAN, RadarMadura.id – Realisasi program makan bergizi gratis (MBG) di Kabupaten Bangkalan menuai sorotan. Sebab, dalam beberapa pekan terakhir banyak temuan. Menu yang diberikan kepada siswa ditengarai bermasalah. Mulai dari menu yang basi hingga temuan ulat dan belatung.
Selain itu, persoalan memorandum of understanding (MoU) antara satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) dengan sekolah yang masih bermasalah. Ada klausul dalam perjanjian tersebut yang meminta sekolah merahasiakan apabila terjadi kejadian luar biasa. Seperti keracunan, ketidaklengkapan paket makanan ataupun kondisi lainnya.
Ketua Tim Satgas MBG Bangkalan Bambang Budi Mustika menyampaikan, pihaknya berencana untuk memangil semua SPPG se-Kabupaten Bangkalan. Rencana pemanggilan itu berdasarkan arahan dari bupati, mengingat banyaknya temuan terkait realisasi program MBG.
”Besok (hari ini) sekitar pukul 13.00 semua SPPG se-Bangkalan akan kami panggil,” jelasnya.
Dia menjelaskan, ada beberapa poin penting yang perlu didiskusikan dan diklarifikasi dengan semua kepala SPPG. Seperti temuan menu makanan yang selama ini dilaporkan bermasalah. Juga mengenai perjanjian yang dibuat SPPG dengan pihak sekolah.
”Selain temuan makanan basi dan berulat, kami juga akan menanyakan soal perjanjian yang dibuat dengan sekolah,” paparnya.
Secara detail pihaknya belum mengetahui klausul dalam perjanjian yang disodorkan kepada pihak sekolah. Namun, diduga ada larangan terhadap sekolah mendokumentasikan menu MBG yang akan didistribusikan kepada siswa.
”Informasi yang kami dapatkan seperti itu, makanya kami akan panggil semua kepala SPPG,” paparnya.
Ketua Komsi IV DPRD Bangkalan Rokib menyampaikan, Pemkab Bangkalan harus terlibat aktif mengawal pelaksanaan program MBG. Satgas yang ditugaskan untuk mengawal pogram ini harus memantau pendistribusian menu MBG ke semua sekolah. Sebab, khawatir ada yang bermasalah atau tidak sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).
”Pemerintah harus terlibat aktif karena ini kaitannya dengan siswa, makanan yang diberikan harus dipastikan aman,” pintanya. (za/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti