Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Wabup Fauzan Minta SPPG Taati SOP, Cegah Keracunan Massal MBG di Bangkalan

Hera Marylia Damayanti • Sabtu, 13 September 2025 | 12:50 WIB
ANTUSIAS: Siswa SD Negeri Mlajah 2 Bangkalan sedang menikmati menu makan bergizi gratis, Selasa (26/8). (M. KHOLIL RAMLI/JPRM)
ANTUSIAS: Siswa SD Negeri Mlajah 2 Bangkalan sedang menikmati menu makan bergizi gratis, Selasa (26/8). (M. KHOLIL RAMLI/JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Keracunan massal yang dialami siswa usai menyantap makanan bergizi gratis (MBG) belakangan menjadi sorotan publik. Salah satunya, di wilayah Kabupaten Pamekasan.

Untuk mengantisipasi kasus serupa terjadi di Bangkalan, Wakil Bupati (Wabup) Moch. Fauzan Ja’far angkat bicara. Dia meminta satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) di Kota Salak menaati standar operasional prosedur (SOP) secara ketat.

”Kami akan melakukan koordinasi dengan seluruh SPPG yang ada. Karena bagaimanapun juga, kalau sampai terjadi hal serupa, seperti keracunan atau makanan yang disajikan tidak layak, ini bukan hanya soal teknis, tapi menyangkut keselamatan anak-anak kita,” kata Wabup Fauzan.

Pembangunan dan pengelolaan SPPG selama ini memang dilakukan oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Meski begitu, Pemkab Bangkalan tidak bisa tinggal diam.

”Karena yang mendapatkan makan gizi gratis kan anak-anak kita, siswa-siswi yang ada di Bangkalan. Itu tanggung jawab kami juga,” ujarnya.

Mantan ketua KPU Bangkalan itu mengaku khawatir terhadap sistem kerja SPPG dalam menyiapkan menu makanan. Sebab, kapasitas produksi makanan tidak sedikit. Yakni, mencapai tiga ribu porsi di tiap dapur.

Fauzan menekankan pentingnya keterlibatan pemkab dalam mengawasi pelaksanaan MBG di lapangan. Meskipun, para pengelola SPPG telah didampingi ahli gizi dan mengikuti pelatihan dari BGN.

”Satu SPPG memasak untuk tiga ribu siswa. Pertanyaannya, jam berapa mereka mulai masak? Kalau tidak ada SOP yang ketat, ini berisiko, dan bisa saja (keracunan massal, Red) terjadi,” tegasnya.

Kepala SPPG Martajasah Kusuma Gigih Prakoso mengaku telah meminimalisasi terjadinya risiko keracunan. Yakni, dengan melakukan  quality control secara menyeluruh dan berkala. Mulai dari bahan baku, pengolahan hingga proses pengemasan.

”Sebelum didistribusikan, pasti sudah dilakukan uji coba atau dicicipi terlebih dahulu oleh ahli gizi. Setiap harinya juga menyisakan sampel, yang disimpan selama dua hari. Apabila ada kejadian luar biasa atau keracunan, yang dicek kali pertama sampel itu,” pungkasnya. (lil/jup)

Editor : Hera Marylia Damayanti
#Mbg #ahli gizi #SPPG Martajasah #SPPG #sop #keracunan massal #uji coba #wabup