BANGKALAN, RadarMadura.id – Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (DP2KP) Bangkalan pesimistis produksi garam tahun ini meningkat. Sebab, cuaca tidak mendukung.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan kemarau basah akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.
Pengelola Kesehatan Ikan Ahli Muda DP2KP Bangkalan Edy Wiyono menyatakan, kemarau basah juga terjadi di 2021. Kondisi itu berdampak signifikan terhadap produksi garam. Kualitasnya juga menurun.
”Penurunan produktivitas (saat kemarau basah) bisa empat kali lipat. Dengan asumsi jika kemarau basah berlangsung hingga Agustus mendatang,” ujarnya.
Sebagian petambak garam sudah mulai bersiap untuk memproduksi kristal asin. Namun, kemungkinan produksi baru dimulai Juli mendatang. Sebab, cuaca ekstrem diprediksi masih akan terjadi hingga akhir bulan ini.
Pria berkacamata itu memaparkan, target produksi garam tahun ini 5.000 ton. Tetapi, pihaknya pesimistis target itu akan tercapai. Sebab, cuaca tidak mendukung. ”Jangankan produktivitasnya, kualitasnya saja juga bisa berkurang kalau cuaca buruk seperti sekarang,” sambungnya.
Edy menambahkan, saat produktivitas garam berkurang, maka harga jualnya bisa meningkat. Sebab, semakin langka garam, harga di pasaran lebih tinggi. Begitu pun sebaliknya, saat stok garam melimpah, harga jualnya makin rendah.
”Harga normal untuk garam kisaran Rp 800 ribu per ton. Jika harganya di bawah itu, petani pasti merugi,” tandasnya. (za/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti