Hindari Buah Hati dari Disleksia
KOTA, RadarMadura.id – Anak yang mengalami disleksia bisa kesulitan belajar. Sebab itu, dibutuhkan peran aktif orang tua (ortu) agar buah hatinya sehat secara jasmani dan rohani.
Psikolog Klinis RSUD Syamrabu Drs. Sastro Sardjono, M.M., M.Kes., Psikolog menerangkan, disleksia merupakan gangguan perkembangan belajar.
Mulai kesulitan membaca, menulis, dan mengeja. Pemicunya disebabkan gangguan perkembangan saraf di bagian batang otak.
Disleksia juga bisa disebabkan faktor genetik dan dipicu kondisi medis lainnya. Misalnya, cedera otak saat proses persalinan.
Kemudian, bisa dipicu penyakit di bagian otak, lahir prematur, dan berat badan lahir rendah (BDLR).
”Disleksia pada anak juga bisa dipicu oleh ibunya. Yaitu, lahir dari ibu yang merupakan pengguna obat-obatan, alkohol, perokok, infeksi otak, dan lainnya,” terangnya.
Ada beberapa ciri-ciri anak yang menderita disleksia. Yakni, sering lupa, sulit berbahasa, menulis terbalik, dan sulit mengurutkan abjad. Kemudian, sulit respons baca lambat, sering kehilangan barang-barangnya.
Tes psikologi menjadi instrumen penting untuk mendeteksi tumbuh kembang anak. Terutama keterampilan mendengarkan dan berbicara, pengenalan kata, penamaan cepat, penguraian huruf, ejaan, dan lain-lain.
Disleksia yang terjadi seumur hidup bisa menjadi tantangan tersendiri bagi penderita.
Namun, orang tua tidak perlu khawatir karena sekarang dapat ditangani praktisi psikolog klinis, dokter spesialis anak, dan ahli pendidikan luar biasa.
Disleksia yang dibiarkan tanpa penanganan intensif dan efektif bisa menimbulkan berbagai komplikasi. Mulai dari masalah belajar, kurang percaya diri, dan perilaku impulsif-agresif.
”Semua itu bisa terjadi karena tidak memiliki kemampuan baca dan menulis. Dengan demikian, jenjang pendidikannya tidak optimal dan menjadi tenaga kasar, sulit mempertahankan perhatian, dan hiperaktif,” sambungnya.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua dan guru untuk menangani anak yang mengalami disleksia.
Antara lain, membacakan buku untuk anak-anak dengan suara yang jelas, memperbanyak waktu membaca di rumah, membuat suasana membaca menyenangkan, dan memotivasi anak untuk senang membaca buku.
”Pencegahan disleksia yang bisa dilakukan dengan mempersiapkan pernikahan, kehamilan sehat, dan persalinan yang baik. Juga asupan gizi harus berkualitas serta stimulasi dini sejak kehamilan, neonates, dan balita yang baik. (jup)
Editor : Achmad Andrian F