BANGKALAN, RadarMadura.id – Tahun ini jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Bangkalan cukup tinggi.
Hingga April, dinas kesehatan (dinkes) mencatat ada 96 pasien yang dirawat akibat mengidap penyakit DBD.
Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Bangkalan Mariamah menyampaikan, kasus DBD 2024 meningkat 400 persen dibadingkan 2023. Tahun lalu angka kasus mencapai 282 pasien. Sedangkan pada 2023 hanya 74 kasus.
”Walaupun angka kematiannya lebih sedikit, jumlah yang terdampak cukup banyak,” katanya.
Dia mengutarakan, data kasus DBD itu berdasarkan laporan dari puskesmas di seluruh Kota Salak. Rata-rata yang terdampak adalah balita dan anak kecil. ”Kasus tertinggi usia lima tahun hingga 15 tahun,” tuturnya.
Tahun ini kasus DBD tercatat masih tinggi. Selama empat bulan terakhir, ada 96 pasien yang dirawat di puskesmas.
Menurut Mariamah, peningkatan kasus DBD di Bangkalan bergantung pada musim. Ketika musim hujan, kasus meningkat.
Selain itu, faktor lingkungan seperti tumpukan sampah menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes Aegypti.
Mariamah menjelaskan, penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue yang dibawa nyamuk Aedes Aegypti. Lokasi yang menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk tersebut yakni di wilayah genangan air.
”Kami sudah meminta semua puskesmas memberantas sarang nyamuk (PSN),” ungkapnya.
Dia mengimbau masyarakat rutin menjaga lingkungan dan membersihkan lokasi yang menjadi sumber perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti. Selain itu, harus menjaga imun tubuh anak sehingga tidak mudah terserang virus.
”Orang tua harus bisa menjaga imun tubuh anaknya. Biasanya anak yang kurang imun mudah terdampak DBD,” pesannya. (din/bil)
Editor : Achmad Andrian F