BANGKALAN, Jawa Pos Radar Madura – Persebaran agama Islam di Madura tidak bisa dilepaskan dari perjalanan hidup Syekh Zainal Abidin atau Sunan Cendana. Pesarean ulama terkemuka itu berlokasi di Desa Ketetang, Kecamatan Kwanyar, Bangkalan.
Gelar sunan disematkan kepada Syekh Zainal Abidin karena silsilahnya. Ayahandanya Syekh Khotib merupakan cucu Raden Muhammad Ali Rahmatullah atau Sunan Ampel dari jalur Raden Hasyim atau Sunan Drajat.
Sedangkan ibunya, Nyai Gede Kedaton merupakan cucu Raden Ainul alias Sunan Giri dari jalur Syekh Penambahan Kulon. ”Jadi, menurut cerita, Syekh Zainal Abidin merupakan cicit dari Sunan Ampel,” ujar juru kunci Makam Sunan Cendana, KH Abdul Hadi
Syekh Zainal Abidin menyebarkan Islam di tanah Madura karena ditugaskan Sunan Ampel. Syekh Zainal Abidin kali pertama menginjakkan kaki di pesisir selatan Pulau Garam. Kemudian, menetap di sebuah desa pesisir di selatan Bangkalan yang kini menjadi Kecamatan Kwanyar.
”Kalau tibanya tahun berapa, saya juga tidak tahu jelasnya,” katanya.
Syekh Zainal Abidin menyebarkan dan mengajar ajaran Islam kepada masyarakat yang umumnya bermata pencarian sebagai nelayan. Metode dakwah yang diterapkan memakai pendekatan persuasif.
Sedangkan kata Cendana disematkan karena konon kediaman Syekh Zainal Abidin identik dengan pohon cendana yang besar dan rindang. Dia disebut-sebut sering bertapa di bawah pohon itu.
”Ketika sudah wafat, pohon itu ditebang dan mengeluarkan bau harum, dari situlah Syekh Zainal dijuluki Sunan Cendana,” katanya.
Ulama kelahiran Mataram itu bukan hanya menyebarkan ajaran Islam di wilayah Madura bagian barat. Syiar Islam juga dilakukan di daerah Sampang hingga Sumenep.
Berdasar cerita yang beredar, Sunan Cendana membawa syiar Islam dari tanah Jawa ke Madura dengan bantuan seekor ikan mondung atau hiu. Ikan berukuran besar itu menawarkan diri ke Sunan Cendana untuk mengantarkannya ke Pulau Garam dengan cara menaiki punggungnya.
Sebab, saat itu belum ada sarana transportasi laut modern, apalagi jembatan yang menghubungkan antara Madura dan Pulau Jawa. Konon, ikan yang mengantarkan Sunan Cendana berlabuh di Desa Labuhan, Kecamatan Sreseh, Sampang.
Sebelum berpisah dengan ikan yang mengantarkannya, Sunan Cendana berterima kasih dan menawarkan imbalan. Ikan tersebut hanya meminta barokah dari Sunan Cendana.
Dengan spontan, Sunan Cendana berdoa agar keturunannya tidak memakan keturunan ikan mondung. Jika dilanggar, akan ada tanda pada tubuh keturunannya. Seperti belang atau putih pada kulit.
”Kali pertama sampai tujuan Sunan Cendana di daerah Sreseh, Sampang,” ceritanya.
Setelah sekian lama menyebarkan ajaran agama Islam di daerah yang kali pertama disinggahi, Sunan Cendana kemudian berkelana ke wilayah pesisir Bangkalan bagian selatan. Hingga akhirnya wafat dan dimakamkan di Desa Ketetang, Kecamatan Kwanyar.
”Pesareannya menjadi wisata religi, setiap tahunnya ribuan orang berziarah,” katanya.
Baca Juga: Viral Animasi Ghibli Versi AI, Begini Tanggapan Hayao Miyazaki Sang Pendiri
Peziarah Berkurang sejak Pandemi
Syekh Zainal Abidin atau Sunan Cendana termasuk salah satu ulama yang sangat disegani. Buktinya, Pesarean Sunan Cendana yang berlokasi di Desa Ketetang, Kecamatan Kwanyar, itu diziarahi ribuan wisatawan setiap tahunnya.
Menurut catatan, Sunan Cendana wafat pada 1.569 Masehi. ”Peziarah pernah mencapai 700 orang dalam sehari,” ujar juru kunci Makam Sunan Cendana Madura KH Abdul Hadi, Jumat (28/3).
Namun, sejak pandemi Covid-19, jumlah peziarah makin berkurang dan tidak seramai dulu. ”Saat Ramadan jumlah pengunjung per harinya kisaran 50 peziarah,” imbuhnya.
Peziarah saat ini didominasi masyarakat sekitar, khususnya di malam Jumat. Selain itu, banyak warga yang berziarah setelah menunaikan ibadah salat Id.
”Sudah menjadi rutinitas setiap tahun, masyarakat sekitar langsung menggelar tahlilan setelah selesai salat Idul Fitri,” ungkapnya.
Pesarean Syekh Zainal Abidin saat ini dijaga oleh satu keluarga secara turun-temurun. Saat ini yang dipercaya menjadi juru kunci merupakan generasi kelima. Yakni, KH Abdul Hadi.
”Keluarga kami dipercaya untuk menjadi juru kunci Makam Sunan Cendana, dan saya merupakan generasi kelima,” ungkap pria 71 tahun itu. (din/jup)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti