BANGKALAN, Radar Madura.id - Santri putra dan putri tampak sedang bersiap mengikuti program Ramadan.
Ada yang menggenggam kitab klasik. Ada pula yang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an di musala. Kegiatan Pondok Pesantren (Ponpes) At-Ta’awun Sabilush Sholihin terus berjalan.
Lembaga pendidikan yang terletak di Pedeng, Kecamatan Socah, Bangkalan, ini dipimpin Drs KH Muhamamd Mansur. Pesantren ini didirikan pada 1991.
Kala itu statusnya masih berbentuk yayasan. Pendirian Ponpes At-Ta’awun mendapat restu dari Pengasuh Ponpes Darul Ulum Banyuanyar KH Muhammad Syamsul Arifin.
Ponpes At-Ta’awun digagas dengan tujuan sangat mulia. Yakni, pengabdian terhadap masyarakat di berbagai bidang, baik ekonomi, sosial, maupun pendidikan.
Pendirian ponpes penuh perjuangan dan cukup sulit. Apalagi secara perekonomian, keluarga pengasuh tergolong orang yang tidak berada.
Sekitar 1997–1998 KH Muhammad Syamsul Arifin mengirimkan tiga santrinya untuk dikuliahkan di Universitas Bangkalan (Unibang) yang saat ini menjadi Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Ketiga santri itu adalah Ach. Muhlisin, Abd. Basit, dan Baihaki.
Tiga orang itu dipasrahkan oleh KH Muhammad Syamsul Arifin kepada Kiai Mansur. Dia juga berpesan agar tiga santri terbaiknya itu dijaga dan dimanfaatkan. Hal itu disampaikan pada saat momen-momen yang sangat genting.
”Hampir setengah hari KH Muhammad Syamsul Arifin bertamu, tapi pesan agar saya menjaga dan memanfaatkan tiga santri itu disampaikan ketika beliau berada di mobil dan hendak balik ke Banyuanyar,” kenangnya Minggu (9/3).
Wakil Sekretaris PCNU Bangkalan 2008–2012 itu melanjutkan, tiga santri yang dititipkan oleh gurunya seakan-akan menjadi restu untuk mendirikan ponpes.
Pondok yang dia pimpin memiliki perkembangan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun.
Mulai dari pendirian taman kanak-kanak (TK) Al-Qur’an yang awalnya hanya enam siswa yang berasal dari tetangga sekitar.
Kepercayaan masyarakat terhadap lembaga yang dia dirikan terus tumbuh hingga mendirikan madrasah diniyah awwaliyah, madrasah diniyah wusto sejak 2004.
Setelah itu, mulai mendirikan sekolah menengah pertama (SMP) pada 2010. Kemudian, dilanjutkan dengan SMA Sabilush Sholihin, dan yang terbaru TK Islam Terpadu yang baru didirikan pada 2021.
Ponpes At-Ta’awun tidak hanya menjadi tempat sekolah, tetapi juga menjadi tempat santri untuk bermukim mencari tambahan ilmu pengetahuan.
”Bagi Abah, itu adalah posisi yang berbeda, tetapi satu. Karena itu, santri di sini ada yang memang santri sekaligus sekolah madrasah. Aada juga santri, tapi tidak sekolah dan ada santri yang kuliah,” jelas Ulul Albab, putra Kiai Mansur.
Perjuangan yang digagas berangkat dari keperihatinan Kiai Mansur. Ayah Ulul Albab itu merupakan sarjana pertama di Pondok Darul Ulum Banyuanyar.
Proses untuk meraih gelar itu tidak mudah. Sebab, dia berasal dari keluarga kalangan menengah ke bawah.
”Abah berkeinginan agar orang-orang yang memiliki cita-cita tinggi dan ingin menaikkan derajatnya dengan ilmu tidak lagi kesulitan,” imbuhnya.
Nama At-Ta’awun merupakan pemberian KH Muhammad Syamsul Arifin yang memiliki arti gotong royong atau tolong menolong. Sementara lembaga pendidikan shabilush sholihin bermakna jalan orang-orang yang saleh.
Saat ini jumlah santri mukim 159 orang. Terdiri atas 90 santri putri dan sisanya santri putra. Mereka berasal dari beberapa daerah seperti Papua, Banten, dan Banyumas.
”Untuk yang nonmukim alias masyarakat pesantren yang ada di lembaga pendidikan ini sudah hampir 500 orang,” terangnya. (za/luq)
Editor : Achmad Andrian F