Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Pondok Pesantren Keramat, Bangkalan Berkembang Pasca Terapkan Madrasah Wajib Belajar NU

Achmad Andrian F • Senin, 24 Maret 2025 | 18:08 WIB

 

DISIPLIN: Siswa MI Thoriqul Muhtadin mengikuti upacara sebelum melaksanakan kegiatan belajar mengajar. (PONPES KERAMAT UNTUK JPRM)
DISIPLIN: Siswa MI Thoriqul Muhtadin mengikuti upacara sebelum melaksanakan kegiatan belajar mengajar. (PONPES KERAMAT UNTUK JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Pondok Pesantren (Ponpes) Keramat terletak di Desa Ujung Piring, Kecamatan/Kabupaten Bangkalan. Pesantren yang dirintis KH Abd Rozzaq itu berdiri sejak 1946.

Hingga sekarang, kepemimpinan pesantren sudah berganti tiga pengasuh. Pasca KH Abd Rozzaq wafat, pengasuh pesantren dilanjutkan KH Mukhtar Rozzaq.

Setelah itu, pesantren diasuh KH Ahmad Mukhtar dan wafat pada 1993. Saat ini lembaga pendidikan ini diasuh KH Hasan Iroqi.

Sejak didirikan, nama pesantren tidak berubah yakni Ponpes Keramat. Nama keramat diambil dari nama tempat berdirinya pesantren yang dikenal memiliki kekeramatan oleh warga sekitar.

Kiai Hasan mengutarakan, saat kepemimpinan ayahnya, lembaganya membentuk klasifikasi pembelajaran yang diinisiasi oleh PBNU. Program itu dikenal dengan madrasah wajib belajar NU yang dibawa oleh KH Munif.

Program itu dicanangkan sebagai alternatif dari pendidikan pesantren di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU). Di Kota Salak ada empat pesantren yang menerapkannya.

Yakni, di sekolah yang sekarang ditempati kantor PCNU; di kediaman alm. KH Munif, Burneh; dan kediaman KH Syafiuddin, Klampis.

”Setahu saya saat itu di Bangkalan ada empat lembaga yang menjadi pencobaan program PBNU,” tuturnya.

SEDERHANA: Pengasuh Ponpes Keramat KH Hasan Iroqi saat ditemui di kediamannya Jalan Halim Perdanakusuma Bangkalan, Sabtu (15/3). (ZEINAL ABIDIN/JPRM)
SEDERHANA: Pengasuh Ponpes Keramat KH Hasan Iroqi saat ditemui di kediamannya Jalan Halim Perdanakusuma Bangkalan, Sabtu (15/3). (ZEINAL ABIDIN/JPRM)

 

Berawal dari situlah pendidikan pesantren berkembang pesat. Setelah itu, pesantren membentuk pendidikan agama ranting Ponpes Sidogiri.

Untuk tingkat dasar diberi nama madrasah awwaliyah, sedangkan tingkat menengah didirikan madrasah wustho. ”Madrasah wustho ini didirikan sekitar 1980-an,” ucapnya.

Kiai Hasan mengungkapkan, santri yang belajar di Ponpes Keramat ada yang mukim dan tidak mukim.

Pihaknya tidak membedakan santri mukim dan tidak mukim karena dianggap memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan agama dan pendidikan formal. Itu terbukti secara kemampuan santri nonmukim juga unggul.

”Santri mukim ataupun santri yang tidak mukim mendapatkan pendidikan yang sama di pondok dalam hal metode pembelajaran,” ungkapnya.

Saat ini jumlah santri di Ponpes Keramat sebanyak 80 orang. Sedangkan untuk santri yang tidak mukim sekitar 130 orang. Metode pembelajaran yang diterapkan merujuk pada Ponpes Sidogiri.

”Kurikulum untuk yang awwaliyah dan wustho kita menggunakan metode dari Ponpes Sidogiri. Kalau pendidikan formal berpedoman pada Kemenag,” tukasnya. (za/bil)

Editor : Achmad Andrian F
#bangkalan #pondok pesantren #madrasah #santri