Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Merasa Nyaman dan Aman di Madura, Warga Sekaran, Lamongan, Sudah 20 Tahun Jalankan Usaha Jahit Sepatu di Bangkalan

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 8 Desember 2024 | 14:25 WIB
MERASA AMAN: Nursam menjahit sandal milik pelanggannya di seberang SDN Kemayoran 1, Jalan Teuku Umar, Bangkalan, Jumat (6/12). (VIVIN AGUSTIN HARTONO /JPRM)
MERASA AMAN: Nursam menjahit sandal milik pelanggannya di seberang SDN Kemayoran 1, Jalan Teuku Umar, Bangkalan, Jumat (6/12). (VIVIN AGUSTIN HARTONO /JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Keamanan dan kenyamanan menjadi salah satu faktor pendukung dalam menjalankan usaha atau pekerjaan.

Hal tersebut yang menjadi alasan Nursam menjalankan usaha jasa menjahit sepatu di Bangkalan.

Pria asal Sekaran, Lamongan, itu sudah puluhan tahun bekerja di Pulau Garam.

”Saya menjalani profesi menjahit sepatu sudah 20 tahun di Bangkalan,” ungkap pria 43 tahun itu Jumat (6/12).

Nursam mengungkapkan, menjahit sepatu merupakan keahlian dan menjadi mata pencarian.

Sebelum berada di Kota Salak, Nursam pernah merantau ke Kalimantan dengan menjalankan pekerjaan yang sama.

”Saya di Kalimantan lima tahun, namun merasa tidak betah. Kalau di Madura, saya merasa aman dan nyaman bertahan hingga saat ini,” paparnya.

Ayah dua anak itu tidak sendiri merantau di Bangkalan. Nursam bersama tujuh orang temannya juga menjalankan pekerjaan yang sama.

”Saya ngontrak di sini sama orang Lamongan juga menjahit sepatu,” imbuhnya.

Berbeda dengan Suliyanto dan Sarju yang belajar ngesol dari temannya, Nursam mendapat keterampilan menjahit sandal dan sepatu dari orang tuanya. Darinyalah Nursam belajar dengan baik.

Menurutnya, di kampungnya mayoritas bekerja menjahait sepatu. Karena itu, tidak sedikit yang keluar kota menjalankan usaha jasa tersebut.

”Mayoritas di kampung saya profesinya menjahit sepatu. Saya merantau dan bertahan karena pergaulannya merasa nyaman, cocok, dan aman,” terangnya.

Dia mematok tarif jasanya tersebut tidak jauh beda dengan penjahit yang lain. Mulai dari Rp 15 ribu–Rp 20 ribu.

Per hari rata-rata Nursam mendapat Rp 100 ribu. Penghasil itu merupakan untuk memenuhi kebutuhan di Bangkalan.

Juga untuk menghidupi istri dan dua anaknya di Lamongan. ”Saya setiap satu bulan sekali pulang ke Lamongan,” terangnya.

Nursam mangkal setiap hari di depan SDN Kemayoran 1 Bangkalan. Tepatnya, trotoar sebelah barat Jalan Soekarno-Hatta mulai pukul 07.00 hingga pukul 16.00.

”Biasanya kalau bulan Ramadan banyak yang dari Lamongan. Kalau sekarang masih banyak yang bertani. Karena saya tidak punya lahan, jadi saya setiap hari di sini,” pungkasnya. (din/luq)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#aman #sepatu #mata pencarian #menjahit #madura #sandal #usaha #nyaman