Mulai Mendesain Otodidak dari Baju Anak-Anak, Kini Fiky Aisyah Faiqotul Himmah Sukses jadi Desainer Busana di Bangkalan

Achmad Andrian F • Dipublikasikan Sabtu, 2 November 2024 | 13:53 WIB

 

BATIK MADURA: Perancang busana Fiky Aisyah Faiqotul Himmah (tengah) beserta talent saat memperkenalkan diri di Jakarta Muslim Fashion Week, Rabu (9/10). (FIKY AISYAH UNTUK JPRM)
BATIK MADURA: Perancang busana Fiky Aisyah Faiqotul Himmah (tengah) beserta talent saat memperkenalkan diri di Jakarta Muslim Fashion Week, Rabu (9/10). (FIKY AISYAH UNTUK JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Fiky Aisyah Faiqotul Himmah memulai kariernya sebagai desainer busana pada 2017.

Kala itu dia mendesain baju untuk anak-anak. Waktu itu dia kali pertama mengikuti fashion show di Kota Malang dengan menampilkan baju anak-anak yang dikombinasikan dengan batik Madura.

Merancang busana awalnya hanya iseng bagi Neng Fiky. Namun, karena dia juga memiliki toko baby shop dia dituntut untuk menyediakan berbagai baju anak-anak.

Hal itu yang membuat dirinya serius dan menyelami dunia perancang busana (fashion designer).

Setahun kemudian, Neng Fiky mulai merancang busana muslim dewasa setelah menyelesaikan sekolah fashion di Surabaya.

Satu tahun waktu yang dihabiskan untuk belajar di bidang fashion tersebut. Waktu yang tidak sebentar bagi perempuan yang juga berstatus sebagai ibu rumah tangga.

DESAINER MADURA: Percancang busana Fiky Aisyah Faiqotul Himmah beserta talent tampil di Pendopo Agung Bangkalan, Jumat (4/10). (ZEINAL ABIDIN/JPRM)
DESAINER MADURA: Percancang busana Fiky Aisyah Faiqotul Himmah beserta talent tampil di Pendopo Agung Bangkalan, Jumat (4/10). (ZEINAL ABIDIN/JPRM)

”Awalnya otodidak karena memang hobi membuat busana anak-anak,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM), Sabtu (12/10).

Saat mengawali karier sebagai perancang baju anak-anak, Neng Fiky hanya menggunakan mesin jahit jadul yang biasa digunakan oleh tukang jahit pada umumnya.

Tanpa ragu-ragu dia langsung membuat baju yang dia inginkan, tanpa harus menggambar pola terlebih dahulu.

”Dulu saya merasa tidak bisa menggambar dan tidak punya bakat untuk menggambar, jadi langsung menjahit sesuai bayangan yang saya pikirkan,” lanjutnya.

Namun, sebagai perancang busana, dia dituntut untuk bisa menggambar. Seiring berjalannya waktu, akhirnya Neng Fiky memutuskan untuk kursus menggambar busana. 

Layaknya desainer profesnional, dia mulai menggambar pola terlebih dahulu sebelum membuat busana muslim.

Salah satu alasan Neng Fiky tekun di dunia desainer dan sering membuat busana muslim dengan kombinasi batik Madura karena sangat bangga terhadap budaya Madura.

Sebagai orang Madura sudah selayaknya memperkenalkan batik-batik Madura di kancah nasional ataupun internasional. Sebab, batik Madura memiliki kualitas yang bisa bersaing dengan batik di daerah lain.

”Sayang sekali jika batik Madura ini tidak kita angkat ke pasar yang lebih luas lagi, karena di daerah lain sudah melakukannya,” sambungnya.

Menurut dia, batik Madura yang didesain sedemikian rupa menjadi busana muslim akan memiliki nilai yang lebih dibandingkan hanya dijual berbentuk kain batik.

Setelah dicancang akan memiliki daya tarik yang lebih tinggi terhadap pembeli. Terutama bagi kalangan milenial menjadi hal yang unik dalam berbusana

”Bagi sebagian orang seperti kolektor akan memilih batik yang masih original, tapi sebagian besar harus mengikuti desain fashion sebagai daya tarik,” imbuhnya.

Busana muslim hasil karya Neng Fiky dibanderol dengan harga yang bervariasi. Biasanya harga yang dia tawarkan sesuai dengan kualitas batik yang digunakan.

Semakin tinggi kualitas batik yang digunakan, harganya juga akan semakin mahal. Misalnya untuk busana yang dikombinasikan dengan batik premium dibanderol dengan harga Rp 2 juta hingga Rp 2,5 juta.

Makanya saya juga membuat batik cap batik Madura agar harganya juga lebih terjangkau, yakni di kisaran Rp 500 ribu,” paparnya. (za/luq)

Editor : Achmad Andrian F
bangkalan baju busana desain desainer fashion