Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Belasan Ribu Anak Putus Sekolah, Tertinggi di Tiga Kabupaten di Madura

Ina Herdiyana • Rabu, 4 September 2024 | 17:35 WIB

 

GRAFIS: SIGIT AP/JPRM
GRAFIS: SIGIT AP/JPRM

KOTA, RadarMadura.id – Angka anak tidak sekolah (ATS) di Bangkalan masih tinggi. Bahkan paling tinggi dibandingkan dengan ATS tiga kabupaten lainnya di Madura. Yakni, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep (lihat grafis).

Berdasar Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), ada 14.411 ATS. Alasannya, drop out (DO) dari sekolah dan lulus tidak melanjutkan (LTM).

Kabid Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Bangkalan Heru Aliwardhana menyatakan, tingginya ATS menjadi pembahasan. Meski secara detail pihaknya belum bisa meninjau data tersebut.

Namun yang pasti, ada banyak fakta yang mendasari tingginya AST di Bangkalan.

Yakni, melanjutkan sekolah pesantren sehingga tidak terekam di data pokok pendidikan (dapodik). Sementara siswa yang masuk pesantren terdata di sistem berbeda, yaitu education management information system (EMIS).

”Sementara data ini belum sinkron dengan Kemenag. Tapi, mungkin ada faktor lain memang putus sekolah,” tambahnya.

Data ATS di pusdatin Mendikbudristek sudah memerinci kelas siswa yang dikeluarkan dari sekolah.

Namun, pihaknya belum menerima laporan adanya siswa yang di-DO atau tidak melanjutkan. ”Kami belum punya data anak yang putus sekolah. Belum ada,” paparnya.

Heru mengungkapkan, siswa yang mengenyam pendidikan di lembaga swasta berbasis pesantren lebih sulit terdata di dapodik.

”Karena datanya terputus bagi yang tidak melanjutkan ke negeri. Makanya, saat ini perlu dilakukan sinkronisasi,” jelasnya.

Sementara itu, Kasi SMA PK dan PLK Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Bangkalan Moh. Fauzi menyatakan, tinggi ATS menjadi atensi lembaganya. Stekeholder telah melakukan rapat untuk menyikapi data itu.

”ATS itu nanti dipisah karena penyebabnya DO, LTM, dan tidak pernah sekolah,” katanya.

Data ATS memang paling banyak siswa kelas XI yang di-DO. Penyebabnya, siswa memilih berhenti sekolah karena alasan tertentu sehingga perlu dikeluarkan dari dapodik sekolah. ”Itu juga menyebabkan angka DO yang sangat besar,” paparnya.

Anggota Dewan Pendidikan Bangkalan Mahmudi Ibnu Khotib menyampaikan, ATS Kota Salak paling tinggi dibandingkan tiga kabupaten lainnya di Pulau Garam. Itu menjadi salah satu penghambat peningkatan indeks pembangunan manusia (IPM).

Makanya, data tersebut perlu di-tracing kondisi anak yang sebenarnya,” pintanya. (ay/jup)

Editor : Ina Herdiyana
#putus sekolah #anak #kabupaten #madura