BANGKALAN, RadarMadura.id – Lain desa lain cara. Beda desa bisa beda budaya. Namun, di Madura ada satu budaya yang sama. Yakni, ter-ater atau berbagi.
Pada bulan Ramadan, ter-ater dimulai sehari sebelum memulai puasa hari pertama yang biasa dikenal dengan sebutan nanampan.
Selanjutnya, ter-ater dilakukan pada malam 21 Ramadan dengan membuat tajin sanapora (bubur lemak). Bubur ini dibagikan kepada kerabat dan keluarga.
Budayawan Hidruhin Sabarudin menjelaskan, ter-ater merupakan salah satu tradisi Bangkalan ketika Ramadan menjelang Lebaran. Kegiatan ini dilakukan pada tanggal ganjil, seperti malam 21 sampai 27 Ramadan.
”Tradisi ini membangun rasa kekeluargaan sekalipun jaraknya jauh tetap akan dikirimi tajin sanapora,” jelasnya Senin (8/4).
Jarak tidak menjadi persoalan bagi masyarakat Bangkalan untuk terus melaksanakan tradisi yang rutin dilaksanakan setiap Ramadan tersebut. Salah satu tujuannya adalah menjalin tali silaturahmi karena sudah mendekati Lebaran.
”Tradisi ini masih dilestarikan di Bangkalan, terutama di desa, pasti kita jumpai tradisi ter-ater ini,” ucapnya.
Dia menambahkan, tradisi ter-ater ini merupakan tradisi yang harus dirawat oleh masyarakat.
Sebab, bagaimanapun, kebiasaan seperti itu mendorong masyarakat untuk meningkatkan rasa kekeluargaan di tengah kemajuan teknologi yang begitu pesat.
”Selain itu, ketika ada yang sudah memilih membuat jenis makanan ketan susu, itu pertanda sudah malam ke-27,” ujarnya. (za/luq)
Editor : Ina Herdiyana