Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Lora Muhammad Ismail Al Ascholy, Menulis Kitab sejak Usia 14 Tahun

Fatmasari Margaretta • Sabtu, 23 Maret 2024 | 18:10 WIB
PRODUKTIF: Lora Muhammad Ismail Al Ascholy membaca kitab karyanya di kediamannya di Pondok Pesantren Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, Senin (18/3). (AYU LATIFAH/JPRM)
PRODUKTIF: Lora Muhammad Ismail Al Ascholy membaca kitab karyanya di kediamannya di Pondok Pesantren Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, Senin (18/3). (AYU LATIFAH/JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Sebagai santri kelana, Muhammad Ismail Al Ascholy pindah-pindah pesantren untuk menimba ilmu.

Lora Ismail Al-Ascholy berguru kepada banyak kiai. Dari satu pesantren ke pesantren lain. Dari satu daerah ke daerah lain. Dari Madura, Jawa, hingga Yaman.

Lora Ismail merupakan putra pasangan KH Muhammad Agus Lukman Hakim dan Nyai Hj Muthmainnah Aschal.KH Ali Ridho Hasyim dan Nyai Mutmainnah.

Beliau keturunan kedua dari KH Hasyim Abdul Ghafur, Gerongan, Pasuruan. Dia lahir pada 10 Juli 1995.

Keturunan keenam Syaikhona Muhammad Kholil itu mengawali pendidikan madrasah di rumahnya, Kelurahan Demangan, Kecamatan Bangkalan. Yakni, di Pondok Pesantren Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan.

Selanjutnya, pada 2005 Pondok Pesantren As-Sadad Ambunten, Sumenep. Pada usia sepuluh tahun itu dia ngaji kitab Aqidatul Awam dan Safinat An-Najah kepada KH Thoifur Ali Wafa.

Baca Juga: Jadi Tersangka Kasus Pelecehan Seksual, Gaji Oknum Kepsek Dipotong, Bulan Ini 50 Persen Harus Dikembalikan

”Tahun 2005 di bulan Ramadan saya pernah mengaji di paman saya sendiri Kiai Thoifur Ali Wafa. Beliau adalah kiai masyhur di Madura karena memiliki ratusan karya kitab. Cuma satu bulan,” kenang Ra Ismail Sabtu (16/3).

Pengalaman tersebut merupakan awal menempuh pendidikan yang serius. Sebab, dia mengaku saat menjadi santri madrasah di pesantrennya tidak pernah serius.

Santri Kelana Inspirasi Pemuda
Santri Kelana Inspirasi Pemuda

”Karena memang rumah sendiri. Jadi saya kurang serius waktu itu,” tambah alumnus SDN Demangan 2 tersebut.

Dari Ambunten, Sumenep, itu, petualangan nyantri Ra Ismail dilanjutkan ke pesantren lain. Selama sembilan tahun dia nyantri di enam pesantren.

Setelah belajar ilmu tauhid dan fikih, Ra Islam mendalami ilmu nahwu sorrof.

Baca Juga: Kuota Mudik Gratis Capai Ribuan, Komisi III Sumenep Ingatkan Keselamatan Pemudik

KAROMAH: Lora Muhammad Ismail Al Ascholy (kopiah hitam) memberikan kitab karyanya dan kitab Syaikhona Muhammad Kholil kepada Habib Ali Al-Jufri disaksikan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar.
KAROMAH: Lora Muhammad Ismail Al Ascholy (kopiah hitam) memberikan kitab karyanya dan kitab Syaikhona Muhammad Kholil kepada Habib Ali Al-Jufri disaksikan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar.

Ilmu metode cepat membaca kitab kuning itu didalami di Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati pada 2007.

Di Pondok Pesantren (Ponpes) di Jepara, Jawa Tengah, ini dia nyantri selama sembilan bulan.

Kemudian tahun berikutnya nyantri di Ponpes Al-Islah Lasem. Di pesantren yang terletak di Rembang, Jawa Tengah, itu dia menekuni ilmu salaf secara keseluruhan. Di pesantren ini dia nyantri selama tujuh tahun.

Dari Pulau Jawa, Ra Ismail melanjutkan perjalanan keilmuan ke luar negeri. Pada 2011 dia menuju Pesantren Darul Musthafa yang terletak di Kota Tarim, Hadramaut, Yaman.

Di sana dia menyelami keilmuan pendalaman citarasa Arab dan lain-lain di bawah asuhan Habib Umar bin Hafidz selama satu bulan.

Pengembangan penulisan dia tekuni ketika nyantri di Pesantren Masyhad Annur Sukabumi. Menyantri di Masyhad merupakan keinginannya untuk melanjutkan menyantri di Yaman.

Karena itu, pada 2015 Ra Ismail kembali ke Yaman. Kali ini dia nyantri di Pesantren Rubath Tarim untuk mendalami ilmu fikih.

”Untuk mondok di sana memang tiketnya harus menyantri dulu di Sukabumi. Tapi, saya di Rubath hanya dua bulan. Saya terpaksa pulang karena terjadi perang antara Syiah dan Sunni,” jelasnya.

Karya Kitab
Karya Kitab

Sepulang dari Yaman, Ra Ismail melanjutkan pendidikan pesantrennya ke Al-Anwar, Sarang, Jawa Tengah, pada 2015. Saat itu dia fokus mendalami ilmu tafsir Al-Qur’an.

Di pesantren yang didirikan KH Maimoen Zubair itu melahirkan kitab berjudul Safinah Kalla Saya’lamun fi Tafsiri Syaikhina Maimun.

DAKWAH: Muhammad Ismail Al Ascholy saat mengisi pengajian.
DAKWAH: Muhammad Ismail Al Ascholy saat mengisi pengajian.

”Sebuah kitab kumpulan tafsir beliau yang akhirnya bisa dinikmati oleh semua orang hingga saat ini,” terangnya.

Kitab tersebut bukan karya pertama Ra Ismail yang ditulis pada usia 20 tahun. Jauh sebelumnya saat masih 14 tahun dia telah menulis kitab Durrun Ghali, Nadzom Jurumiyah (2009). Kitab itu ditulis saat nyantri di Al-Islah, Rembang, Jawa Tengah.

Ra Ismail menulis sejak remaja karena termotivasi pada gurunya. Yakni, KH Hakim Masduqi yang saat itu usia sembilan tahun sudah mengajar Alfiyah. Pada usia 12 tahun mengajar kitab Jam’ul Jawamik dan 17 tahun mengarang kitab.

”Dari kehidupan beliaulah saya termotivasi. Sudah usia 9 tahun dan 12 tahun saya tidak bisa menyeimbangi. Tapi alhamdulillah saya bisa ’menyalip’ di usia 14 tahun dan berhasil menulis kitab pertama,” ungkapnya.

Setelah berhasil mengarang kitab selama dua minggu tersebut, beliau semakin gigih untuk menulis.

Terlebih kisahnya telah dikenal sebagai santri muda yang berhasil menciptakan belasan kitab di bawah usia 20 tahun. Keberhasilan ini menginspirasi remaja dan santri yang lain.

Hingga saat ini sudah puluhan kitab yang lahir dari tangan Ra Ismail. ”Dalam usia belasan itu sudah menciptakan 15 kitab. Saya senang menulis kitab waktu itu. Alhamdulillah bermanfat saat ini,” jelas pria 29 tahun tersebut.

Ada tiga pengalaman dalam menulis kitab yang membuatnya terkesan. Pertama, saat menulis kitab di usia belasan tahun. Kedua, menulis An-Naghom li Dzawil Gham, kitab tentang galau.

Pengalaman berkesan ketiga ketika menulis kitab Safinatu Kalla Saya’lamun fi Tafsir Syaikhina Maimun.

”Kini saya harus menyelesaikan tafsiran beliau dari Al-Baqarah hingga Al-Ikhlas. Kalau ditulis ini kurang lebih 13–14 jilid. Satu jilid isi 200–300 halaman. Kalau saya berhasil menyelesaikan, ini akan dibukukan oleh pihak pesantren,” ungkap lora yang masuk jajaran pengasuh Pondok Pesantren Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan itu.

ALIM ULAMA: Lora Muhammad Ismail Al Ascholy (dua dari kanan) dalam sebuah pertamuan bersama KH Ahmad Bahauddin Nursalim.
ALIM ULAMA: Lora Muhammad Ismail Al Ascholy (dua dari kanan) dalam sebuah pertamuan bersama KH Ahmad Bahauddin Nursalim.

Saat Ra Ismail sedang menggarap jilid tiga. Dia berkomitmen akan menyelesaikan kitab tersebut sebelum wafat. Sebab, karya tersebut termasuk bagian perjalanan dakwah.

”Akan saya selesaikan hingga tuntas. Karena saat saya nyantri di Mbah Maimun, saya sadar bahwa santri itu jangan menulis tentang keilmuannya saja. Tapi juga mengabadikan keilmuan gurunya. Ini pekerjaan saya sampai sekarang,” pungkas ketua umum pondok putri dan ketua I Pondok Putra Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan itu. (ay/luq)

Editor : Fatmasari Margaretta
#pondok pesantren #wafat #Keilmuan #Syaikhona Muhammad Kholil #yaman #tafsiran #dakwah #Fikih #menginspirasi #kitab #santri