BANGKALAN, RadarMadura.id – Program Pahlawan Ekonomi Nusantara (Pena) yang diluncurkan Kementerian sosial (Kemensos) kurang diminati.
Indikasinya, hanya satu penerima program keluarga harapan (PKH) yang bersedia diajukan mendapat program itu.
Koordinator Kabupaten (Korkab) PKH Bangkalan Heru Wahjudi menyatakan, program pena diberikan kepada keluarga penerima manfaat (KPM) PKH yang akan tergraduasi.
Bantuan itu sebagai bentuk pembinaan kepada KPM.
”Program Pena berupa pemberian modal kepada KPM sebelum mereka dikeluarkan dari program PKH,” katanya Selasa (19/3).
Bantuan program Pena diberikan dalam bentuk barang. Tujuannya, menunjang usaha yang dirintis KPM PKH.
Sedangkan pengajuan pendamping dalam program tersebut dibagi menjadi tiga jenis.
Yakni, Pena reguler dengan besaran bantuan Rp 5 juta, Pena berdikari Rp 2,4 juta, dan mandatori Rp 2,4 juta.
”Bedanya, untuk Pena reguler dan mandatori by name by adresss-nya sudah ditentukan dari pusat yang diverifikasi oleh pendamping,” ujarnya.
Sedangkan Pena berdikari merupakan pengajuan KPM PKH yang diusulkan oleh pendamping.
Kriteria penerimanya yaitu KPM PKH yang memiliki wirausaha dengan kategori layak dan sehat.
Akan tetapi, selama ini tidak banyak KPM PKH yang bersedia diusulkan dalam program Pena berdikari.
Alasannya, tidak ingin bantuan PKH-nya dicabut. ”Sementara masih satu KPM yang mau,” kata Heru.
Pria berkacamata itu menambahkan, pelaksanaan program Pena berdikari butuh sosialisasi dan pendekatan para pendamping terhadap penerima PKH.
Dengan begitu, KPM benar-benar siap untuk diajukan ke program Pena berdikari.
”Untuk mencari orang yang siap dikeluarkan itu sulit. Meski secara kriteria usahanya sudah maju,” ungkapnya.
Sementara Korcam PKH Geger Samsul Arifin menyampaikan pendekatan kepada KPM butuh proses.
Kebanyakan masyarakat tertarik mengikuti program Pena reguler. Sedangkan mayoritas masyarakat enggan masuk ke Pena berdikari.
”Saya sudah tawarkan, cuma untuk mengajukan itu butuh kesiapan dari KPM,” tandasnya. (ay/jup)
Editor : Fatmasari Margaretta