BANGKALAN, RadarMadura.id – Persoalan sampah tidak hanya menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi tugas bersama.
Karena itu, di momen Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan mengajak masyarakat tidak membuang sampah sembarangan.
Penjabat (Pj) Bupati Bangkalan Arief M. Edie menyatakan, pemerintah akan terus berupaya melokalisasi sampah untuk menciptakan Kota Salak yang bersih.
Namun, upaya tersebut tidak akan sepenuhnya berhasil tanpa dukungan masyarakat. Karena itu, masyarakat harus turut mendukung upaya-upaya pemerintah.
”Yaitu dengan tidak membuag sampah sembarangan. Mari buang sampah pada tempatnya. Terutama sampah plastik,” ajaknya.
Sampah plastik yang dibuang sembarangan tidak hanya berpengaruh terhadap kebersihan, melainkan juga pada kesehatan masyarakat.
Sebab, sampah plastik yang terbuang di saluran pada musim hujan seperti sekarang bisa menjadi sarang nyamuk. Akibatnya, bisa menimbulkan penyakit demam berdarah dengue (DBD).
Arief mengutarakan, upaya mengurangi kuantitas sampah harus dimulai dari diri sendiri. Yakni, membawa tempat minum dan makan sendiri sehingga akan mengurangi penggunaan plastik. ”Ingat, bumi bukan tempat sampah, nggak nyampah, nggak susah,” imbuhnya.
Selama lima bulan menjabat, Pj Bupati Arief sering menjumpai sampah berserakan setelah penyelenggaraan event apa pun.
Kondisi semcam itu seharusnya mulai dihilangkan dengan aksi memungut sampah sehingga bisa menjadi contoh dan meningkatkan kesadaran masyarakat lainnya.
”Setelah dipungut sampahnya, buang pada tempatnya. Sedangkan penyediaan tempat sampah merupakan tugas dinas lingkungan hidup (DLH),” tutur Arief saat menghadiri talkshow peringatan HPSN di Pendopo Pratanu kemarin (21/2).
Pihaknya bersyukur masih banyak tokoh masyarakat dan kelompok pemuda yang peduli terhadap kebersihan.
Pihaknya berharap, tokoh dan kelompok masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap kebersiahan terus bersinergi dengan pemerintah untuk menciptakan Bangkalan bersih dan sehat.
”Mari bersama-sama menyadarkan masyarakat agar mau membuang sampah pada tempatnya,” ajaknya.
Arief menambahkan, pemerintah sudah berusaha maksimal untuk mengelola sampah. Salah satunya dengan skema daur ulang.
Namun, alat dan mesin daur yang sudah disiapkan di TPST Desa Buluh, Kecamatan Socah, tidak mendapat respons positif dari masyarakat. Dengan demikian, sampah harus dibuang dan didaur ulang di wilayah Kecamatan Arosbaya.
”Peran serta fungsi pemuda dan aktivis lingkungan sangat penting untuk mengadapi adanya penolakan dari masyarakat. Makanya, pemerintah berharap tokoh dan pemuda juga memberikan pemahaman kepada warga tentang sampah,” katanya.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Bangkalan Agus Sugianto Zein menyatakan, sampah plastik masih menjadi persoalan besar.
Sebab, saat terkubur butuh waktu bertahun-tahun untuk terurai. Sedangkan ketika berada di air, rentan menjadi pemicu tersumbatnya saluran.
”Maka, cara yang harus dilakukan untuk meminimalkan sampah plastik yaitu dengan membawa kantong sendiri saat berbelanja atau membeli kebutuhan di toko-toko dan pasar,” katanya. (jup)
Editor : Ina Herdiyana