BANGKALAN, RadarMadura.id – Setiap tahun Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bangkalan rutin menguji kualitas air dan udara. Terdapat 15 lokasi yang menjadi sasaran.
Namun, tahun ini program prioritas lingkungan hidup tersebut tak kebagian anggaran.
Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Bangkalan Ismail Ismail diwakili Staf Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan Maulina menyampaikan, instansinya memiliki kewajiban melaporkan hasil pemantauan perkembangan lingkungan. Khususnya kualitas air dan udara di Bangkalan.
Dia menyebut, program tersebut termasuk prioritas karena bagian dari visi misi bupati Bangkalan dalam lingkungan hidup.
”Kita diwajibkan mengirim hasil pemantauan indeks kualitas lingkungan hidup (IKLH) setiap tahunnya pada kementerian,” katanya.
Maulina mengungkapkan, kegiatan pemantauan tersebut dilakukan setiap musim hujan dan kemarau. Pihaknya menyasar 15 titik sungai yang tersebar di enam kecamatan.
Hanya, kegiatan pemantauan IKLH tahun ini belum dipastikan terealisasi.
”Kami sudah mengajukan di tahun ini, tapi tidak dapat karena belum ada anggarannya,” ungkapnya.
DLH Bangkalan mencatat, kebutuhan anggaran untuk program pemantauan IKLH tidak banyak. Dana untuk memantau 15 titik sungai hanya butuh Rp 20 juta.
Baca Juga: Pegawai Kecamatan Kelola Tambang Ilegal, Besok Pemkab Sumenep Kroscek Lokasi
DLH berencana akan mengajukan dana tersebut pada perubahan anggaran keuangan (PAK).
”PAK ini akan dipercepat, karena program prioritas ini tidak kebagian anggaran,” ucap Maulina.
Menurut dia, pihaknya membutuhkan alat online monitoring (onlimo) untuk menjangkau kualitas air. Sejauh ini pemantauan belum maksimal.
Ke depan, perlu onlimo untuk mendeteksi adanya pencemaran lingkungan atau tidak.
”Dari alat uji ini bisa terdeteksi semua, sehingga kami bisa mendapatkan rapor dari kementerian,” pungkasnya. (ay/bil)
Editor : Fatmasari Margaretta