Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Jumanti, Perempuan Lansia yang Hidup Sebatang Kara, Siang dan Malam Berdoa Semoga Tidak Merepotkan Siapa pun

Fatmasari Margaretta • Selasa, 16 Januari 2024 | 16:58 WIB

TIDAK MAMPU: Badriah menemani Jumanti yang terbaring di atas dipan saat ditemui di Dusun Tlagah, Desa Banyoning Daja, Kecamatan Geger, Senin (15/1). (AYU LATIFAH/JPRM)
TIDAK MAMPU: Badriah menemani Jumanti yang terbaring di atas dipan saat ditemui di Dusun Tlagah, Desa Banyoning Daja, Kecamatan Geger, Senin (15/1). (AYU LATIFAH/JPRM)

BANGKALANRadarMadura.id - Hidup berkecukupan bagi sebagian orang adalah nikmat yang harus disyukuri. Apalagi, nikmat bisa memiliki rangkulan keluarga hangat di saat usia senja.

DI antara rerumputuan liar, hanya ada jalan setapak yang bisa dilewati untuk sampai rumah kecil berukuran 4 x 7 meter di Dusun Tlagah, Desa Banyoning Daja, Kecamatan Geger.

Rumah bercat kuning yang ditempel stiker bertulis Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) 2021 tersebut kini sudah kusam.

Di dalamnya hanya ada meja dan kursi usang yang tidak tersentuh tangan. Asbes dengan motif bergelombang menjadi sekat antara ruang depan dan kamar.

Baca Juga: Terlihat Tiga Alat Berat Beroperasi, Pembabatan Mangrove Diduga Libatkan Orang Berpengaruh, PT Budiono Madura Bangun Persada Bungkam

Rumah itu ditinggali lansia bernama Jumanti seorang diri. Di masa senjanya, dia hanya bisa berbaring di atas dipan tanpa kasur.

Koran ini mencoba bersalaman dengan tangan perempuan yang kering dan keriput itu. Uluran tangannya menunjukkan kabahagiaan adanya orang yang sudi menjenguknya.

Air mata di pelipisnya tidak membohongi harunya pada kedua bola mata yang telah rabun.

”Semoga kamu sama Allah diberi kemurahan rezeki dan panjang umur. Pikiran dan hatimu diberikan kesejukan dan ketenangan saat bekerja,” ucapnya saat ditemui Kamis (11/1).

Rambutnya memutih dan usianya kini beranjak ke-90 tahun. Jumanti tak bisa lagi gesit saat usianya separo dari yang sekarang. Kini dia hanya bisa berbaring dan bertahan di rumahnya.

Baca Juga: Terbukti Langgar Kode Etik Profesi, Tiga Anggota Polres Pamekasan Dipecat secara Tidak Hormat

”Ini rumah saya sendiri dan sebelum dibangun oleh pemerintah, dulunya terbuat dari seng,” tuturnya.

Seiring berjalannya waktu, tembok dan lantai rumahnya yang diperbaiki pemerintah melalui program BPSS kini sudah banyak yang keropos. ”Kalau tembok ini dari pemerintah, tapi atap itu dari saya,” terangnya.

Jumanti kini tidak bisa beraktivitas seperti biasa. Untuk bertahan hidup, dia hanya mengandalkan uluran tetangga dan keluarga terdekat.

Sedangkan saat ini sakit-sakitan. Jumanti sempat bertahan hidup dengan berjualan tahu dan mihun di teras rumahnya.

Baca Juga: Pelaku Peragakan 42 Adegan Pembunuhan Sadis Siswa SMK Bangkalan, Begini Reka Ulangnya

Namun karena fisiknya sudah tidak memungkinkan dan matanya kini tak bisa melihat, akhirnya dia berhenti berjualan.

”Sudah enam bulan puasa Ramadan saya tidak jualan. Kalau makan saya di-parengi orang. Alhamdulillah sama Allah saya diberikan kecukupan,” ucapnya.

Jumanti hidup sendiri, tidak memiliki anak dan suami. Semasa muda, dia berjulan rujak di Kota Bangkalan dan sempat berkeluarga. Namun, nasib tidak mujur karena dia tidak memiliki keturunan.

”Saya hanya bisa berdoa siang dan malam. Semoga saat sakit, saya tidak merepotkan siapa pun karena saya tidak punya anak,” ujarnya.

Jumanti mengaku sempat mendapat bantuan dari pemerintah desa setempat. Namun, bantuan tersebut tidak lagi diterima setelah pergantian transisi kepemimpinan.

Baca Juga: Ketok Palu Perkara Pencabulan, Pengadilan Negeri Sumenep Jatuhi Hukuman 6 Tahun Penjara

Dia hanya bisa berdoa dan pasrah akan sisa hidupnya yang semakin lemah.

Saya hanya mau hidup dan mati di rumah peninggalan orang tua ini. Semoga saya tetap sehat,” ucapnya dengan tangan menengadah ke atas.

Sementara Badriah yang merupakan ponakan Jumanti menyampaikan, bibinya memang tidak mau dipindah. Jadi, yang mengurus dan memandikan bibinya adalah dirinya. Rumah Badriah berjarak sekitar 30 meter dari gubuk yang ditempati Jumanti.

”Pernah diajak pindah tidak mau. Sebelumnya, dia masak sendiri. Cuma karena sakit, jadi saya suapi dan saya beri apa yang diberikan orang,” terangnya.

Baca Juga: Kejari Bangkalan Sita Lahan dan Bangunan Milik PT Tonduk Majeng Madura Seluas 15,3 Hektare

Perempuan 65 tahun itu mengaku tidak merasa keberatan meski mengurus Jumanti. Meski dirinya harus menyelesaikan kesibukan lain dan mengurus orang tua yang kondisinya tidak jauh berbeda.

Dia menyadari, bibinya tidak memiliki siapa-siapa selain dirinya. ”Saya tidak merasa berat untuk merawat meski harus bertani dan merawat sapi. Jika saya merasa berat, tidak ada faedahnya merawat ibu,” pungkasnya. (*/jup)

Editor : Fatmasari Margaretta
#bangkalan #sebatang kara #Gubuk #bantuan #bantuan pemerintah #empati #hidup #Lansia