BANGKALAN, RadarMadura.id – Seorang desainer muda Ananda Firdausiyah menyampaikan, busana itu berasal dari luar negeri yang dikenal dengan mermaid dress. Kali pertama yang memopulerkan gaun putri duyung adalah desainer asal Prancis Marcel Rochas di acara adibusana.
Momen paling ikonik yaitu ketika model asal Swedia Lisa Fonssagrives-Penn difoto oleh suaminya Irving Penn untuk majalah Vogue edisi September 1950. Sejak saat itu, gaun mermaid menjadi desain favorit aktris Hollywood era 50-an.
Seiring waktu, gaun mermaid menjadi inspirasi para desainer. ”Gaun itu terinspirasi dari sirip mermaid,” ucapnya.
Menurut perempuan asal Sampang itu, gaun mermaid memang ciri khasnya ada pada bagian bawahnya. Dengan atasan korset atau berbentuk kemban yang sangat ketat hingga lutut. Sementara bawahnya memang sirip duyung yang melebar.
”Memang dari cirinya ngepres di badan hingga lutut. Kalau untuk lengan itu bisa dimodifikasi terserah desainer,” jelasnya.
Kesan yang diberikan pakaian ini akan membuat perempuan lebih feminin. Hanya, untuk badan kurus disarankan ukuran dress jangan terlalu ngepres.
”Kalau kurus mungkin jangan terlalu press body, tapi lebih longgar sedikit di bagian bodinya,” ucap perempuan berusia 25 tahun itu.
Perempuan yang akrab dipanggil Nana itu mengatakan, membuat busana mermaid tidaklah begitu sulit.
Hanya saat fitting baju, terkadang terkendala dengan bentuk tubuh yang kurang sesuai. Sehingga salah satu solusinya dengan melebihkan ukuran pada sisi pinggul dan pinggang.
”Biasanya di bagian pinggul dan pinggang ini akan dilebihkan sedikit. Jika sudah didesain dari awal, pembentukan akan mudah,” terangnya.
Nana tidak memungkiri bahwa busana tersebut sangat cocok untuk acara resmi. Baik acara pesta, pernikahan, dan acara formal lainnya. Karena gaun mermaid ini memberikan kesan mewah bagi si pengguna.
”Pemilihan bahan juga perlu untuk bisa menentukan acara formal dan semiformalnya,” pungkas alumnus Pendidikan Tata Busana Universitas PGRI Adi Buana Surabaya itu. (ay/luq)
Editor : Fatmasari Margaretta