BANGKALAN, RadarMadura.od – Aktif di dunia olahraga menyenangkan bagi sebagian perempuan. Lebih-lebih di panahan tradisional atau jemparingan karena memberikan kesan fashion tersendiri. Sebab, pakaian saat memanah tidak sembarangan. Batik yang digunakan tetap berinovasi walau tidak menghilangkan batik kuno.
Salah seorang atlet jemparingan R. Ayu Riska Fenditia Ningrum menyampaikan, pakaian khusus perempuan dalam olahraga tersebut adalah kebaya. Namun, pemilihan pakaian ini bisa disesuaikan dengan selera. ”Bisa dijadikan gamis, tapi tetap ada unsur batik dan ciri adatnya,” katanya.
Baca Juga: Pelatih Persepam Pamekasan Perkuat Lini Belakang Laskar Ronggosukowati
Pakaian adat khusus perempuan memang mengikuti perkembangan fashion. Misalnya sampir yang digunakan bisa full jarik atau cukup sampai lutut. Namun, keeksotisan jika disandingkan dengan tren fashion sampir saat ini adalah bawahan full yang menggunakan wiru.
”Wiru pada sampir ini masih kental dengan budaya Nusantara sehingga terlihat eksotis,” tambahnya.
Karakteristik model wiru pada sampir memberikan unsur fashion tersendiri. Apalagi, batik yang digunakan adalah batik kontemporer yang selalu mengalami perkembangan. Dengan begitu, pemakai sampir akan lebih percaya diri dan anggun.
Baca Juga: Berkat Servis Pompa Air, As’at Mampu Naik Haji dan Kuliahkan Anak hingga S-2
”Batik yang kami gunakan itu batik kontemporer yang menyesuaikan perkembangan zaman. Tapi, tidak menghilangkan unsur batik kunonya,” ucapnya.
Menurutnya, ada banyak kelebihan pakaian adat jemparingan. Jika ditarik unsur dunia fashion beragam pola pakaian batik. Pakaian ini bisa menyesuaikan inovasi batik yang akan digunakan untuk dijadikan pakaian ada khas atlet jemparingan.
”Misalnya gamis ini, ada unsur batik, model kebaya serta pakaian ini merupakan perpaduan yang mengadopsi dari pakaian nyutro dan gamis. Jadi bisa disesuaikan,” ujarnya. (ay/luq)
Editor : Fatmasari Margaretta