Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Pernah Tolak Perintah Orang Tua, Pendeta Zefanja Indrawan Walujo Kini Menjadi Pelayan Penuh Tuhan

Hera Marylia Damayanti • Kamis, 28 Desember 2023 | 19:14 WIB
TOLERANSI: Pdt Zefanja Indrawan Walujo memegang Kitab Injil di rumahnya di Kelurahan Mlajah, Kecamatan Bangkalan, Selasa (26/12). (AYU LATIFAH/JPRM)
TOLERANSI: Pdt Zefanja Indrawan Walujo memegang Kitab Injil di rumahnya di Kelurahan Mlajah, Kecamatan Bangkalan, Selasa (26/12). (AYU LATIFAH/JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Satu unit mobil Gran Max putih terparkir di depan rumah sederhana berpagar hitam. Di dalamnya ada sofa memanjang berwarna cokelat dan satu pohon natal yang berdiri dengan indah. Bola-bola lampu berwarna merah, putih, dan merah muda itu tampak menggambarkan momen Natal masih berlangsung.

Seorang pria bertubuh tegap dan berkemeja hitam mempersilakan Jawa Pos Radar Madura (JPRM) untuk duduk di sofa. Pria tersebut adalah Pendeta Zefanja Indrawan Walujo. Dialah yang telah memimpin ibadah Natal di Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Bangkalan, Senin (25/12) malam.

Zefanja berdiri memimpin umat di malam Natal tidaklah pernah terbayangkan sebelumnya. Sebab, sejak kecil hingga tumbuh dewasa tidak berkeinginan menjadi pendeta. Meskipun dirinya terlahir dan dibesarkan oleh kedua orang tuanya yang sama-sama pendeta.

”Saya terlahir asli warga Bangkalan. Papa mama saya adalah seorang pendeta sejak 1959. Namun, saya tidak pernah mau menjadi seorang pendeta saat itu,” katanya Selasa (26/12).

Dari sebelas bersaudara, Zefanja adalah anak ke-10 yang berjuang memulai hidup di jalan-Nya. Impitan ekonomi membuatnya putus kuliah pada semester empat karena tak mampu membayar biaya kuliah. Saat itulah perjalanan hidupnya dimulai dengan menjadi teknisi elektro di salah satu perusahaan. Dia ditugaskan di Kota Medan.

”Puji Tuhan setelah putus kuliah tahun 1991, saya mendapatkan pekerjaan ke Medan dan saya bertemu istri juga di Medan,” kenang suami Sri Lidiana Sembiring itu.

Semula perjalanan hidupnya baik dan berjalan lancar dengan gaji yang dirasa cukup untuk menghidupi keluarga. Namun, surat desakan menjadi pendeta dari kedua orang tuanya hadir di tengah-tengah perjalanan kariernya. Dia langsung menolak perintah tersebut.

”Kenapa saya tidak mau? Betapa sulitnya menjadi pendeta, apalagi organisasi kami tidak menganut sistem gaji. Tapi, bergantung pada pemberian jemaat. Untuk membesarkan keluarga kami harus berjuang, itu terjadi di masa kecil. Saya tidak mau hal itu terulang,” ucap pria beragama Kristen Protestan tersebut.

Menurut Zefanja, mengabdi pada gereja tidak harus selalu menjadi pendeta. Baginya, bentuk pengabdian cukup menjadi aktivis bagian dari gereja. Surat yang dilayangkan kedua kali oleh kedua orang tuanya bersekolah pendeta tidak membuatnya goyah dari pendirian.

”Saya berpikir, saya bisa berkarya di gereja Medan waktu itu, membantu perlengkapan gereja. Namun ternyata Tuhan ingin lebih dari itu, meskipun saya berpikir menjadi pendeta adalah pekerjaan yang tidak jelas,” terangnya.

Jam analog di tangannya menunjukkan pukul 10.44. Pria murah senyum itu akhirnya menceritakan betapa sering cobaan yang diberikan Tuhan pasca dirinya menolak menjadi pendeta saat itu. Dari 1993 hingga 1996 setelah menikah, istrinya keguguran dua kali. Tidak lepas dari itu, Zefanja sering selamat dari kecelakaan maut yang hampir merenggut nyawanya.

”Hingga 1997 itu saya selalu mendapatkan musibah. Hampir tiap tahun mendapatkan musibah, dari kecelakaan fatal hingga istri saya keguguran. Bahkan, hingga saya mengidap penyakit ileus usus,” terang bapak empat anak itu.

Puji Tuhan selalu dipanjatkan oleh Zefanja saat itu, sebab lagi-lagi dirinya selamat. Namun pada 1997, ketangguhan hatinya menjadi pendeta mulai terbuka. Sebab, siapa menyangka dirinya didatangkan mimpi bertemu dengan Tuhan saat bertugas di Kecamatan Bengkalis, Provinsi Riau.

”Malam itu saya bermimpi Tuhan Yesus. Di dalam mimpi itu saya bertemu Tuhan Yesus. Singkat cerita, kami bergandengan tangan dengan papa dan satu kalimat pesan Yesus,” terangnya.

Pesan dalam mimpi tersebut, ”Pergi kamu beritakan Injil. Aku akan menyertai kamu dengan tanda heran,” itulah perkataan Yesus yang sampai saat ini dikenang pria usia 54 tahun itu. Zefanja menyampaikan pesan tersebut mengisyaratkan dirinya akan menjadi pemimpin untuk ibadah banyak umat. Sehingga, akhirnya dirinya mulai memantapkan diri atas panggilan Tuhan menjadi pendeta pada 1998.

”Awalnya mimpi itu bagi saya hanya mimpi biasa. Tapi, setelah saya kecelakaan parah dan Gembala Dr M. D. Wakkary mendoakan saya di rumah sakit di Medan, meneguhkan saya untuk mendengarkan panggilan Tuhan menjadi pendeta secara penuh waktu,” kenangnya.

Setelah kembali ke Bangkalan, Zefanja sekolah dan lulus dari Sekolah Alkitab Batu (SAB) dan Sekolah Tinggi Teologi (STT) Yestoya Malang. Dan, memantapkan diri menjadi pendeta. Menurutnya banyak mukjizat yang dia dapatkan selama menjadi pendeta. Salah satunya lolos dari tragedi Tanjung Priok 1998 dan peristiwa lainnya.

”Apa yang saya minta kepada Tuhan Yesus itu semuanya terkabulkan. Termasuk saya meminta saya tidak ingin menjadi pendeta biasa, akhirnya Tuhan Yesus memberkati dan saya bersyukur hingga sekarang saya banyak melayani para jemaat yang meminta doa kepada saya hingga umat luar negeri. Itu mukjizat yang luar biasa,” tutur Ketua Umum Bamag (Badan Musyawarah Antar Gereja) Kabupaten Bangkalan itu.

Perjalanan terberatnya selama menjadi pendeta adalah menjamin keutuhan umat. Walaupun pengalaman terpahitnya dirinya harus kehilangan tujuh umatnya selama satu tahun. Sedangkan dirinya sebagai penggembala harus memperhatikan para jemaat. ”Puji Tuhan sekarang sudah banyak jiwa-jiwa baru dari banyak etnis,” terangnya.

Zefanja saat ini hanyalah berpedoman pada apa yang telah dikhotbahkannya. Prinsipnya adalah khotbah yang benar dan dikehendaki Tuhan adalah khotbah yang diimplementasikan dalam hidup sang pengkhotbah. Saat ini dirinya harus bisa menjalankan amanah menjadi sosok yang bisa menjadi panutan.

”Itulah yang saya pegang hingga saat ini. Itu harapan saya hingga akhir hayat saya,” tutup pria yang juga menjadi Ketua Umum Biro Multimedia Majelis Daerah (MD) Jatim GPdI itu. (ay/luq)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#bangkalan #Mimpi #Tuhan Yesus #khotbah #pendeta #yesus #panggilan tuhan #gereja #pesan #Zefanja