BANGKALAN, RadarMadura.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan gencar menurunkan angka prevalensi stunting. Salah satunya melalui upaya audit status stunting (AKS) yang melibatkan lintas sektor.
Kepala Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (KBP3A) Bangkalan Sudiyo menyatakan, AKS dilakukan di daerah yang menjadi lokus stunting. Tujuannya, mencegah dan mempercepat penanganan stunting.
Pencegahan dilakukan terhadap calon pengantin (catin), ibu hamil (bumil) kurang energi kronis (KEK), dan ibu nifas. Sementara penanganan untuk anak yang sudah mengalami stunting dilakukan dengan upaya identifikasi dan intervensi spesifik.
”Kalau hasil identifikasi bayi stunting membutuhkan tambahan makanan, maka dibawa ke puskesmas. Sementara kalau anaknya terlalu kurus nanti dibawa ke rumah sakit,” ujarnya Kamis (16/11).
Saat ini ada 20 desa di Bangkalan yang menjadi lokus stunting. AKS melibatkan tim pakar dari berbagai kalangan. Yakni, dokter spesialis anak, dokter obgyn, psikolog, dan dokter gigi.
”AKS ini dilaksanakan supaya penanganan kasus stunting semakin maksimal,” kata pria yang biasa disapa Yoyok itu. (jup/onk)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Ina Herdiyana