BANGKALAN, RadarMadura.id – Menjelang musim tanam, petani mulai dihantui rasa waswas ketersediaan pupuk bersubsidi. Juga, harga pupuk yang kerap melambung tinggi, bahkan di atas harga eceran tertinggi (HET).
Karena itu, Pj Bupati Arief M. Edie meminta distributor tidak bermain-main soal harga pupuk. Selama ini, banyak pengaduan diterima. Di antaranya, petani mengaku kesulitan mendapatkan pupuk karena belum tergabung pada poktan.
Ada pula petani yang meminta agar kepala desa dilibatkan dalam penyaluran pupuk kepada petani. ”Saya ingin 2024 semua petani masuk poktan dan kepala desa harus bisa mewakili petani untuk mengambil jatah poktan sesuai syarat yang berlaku,” ujarnya.
Arif menegaskan, distributor menyiapkan dan mendistribusikan pupuk bersubsidi sesuai dengan alokasi. Harganya sesuai dengan HET yang ditentukan pemerintah. ”Jangan terlalu tinggi mengambil untung. Atur di laporan keuangan sehingga harga lebih terjaga,” ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Dispertapahorbun) Bangkalan Puguh Santoso menyatakan, alokasi pupuk urea bersubisdi tahun ini 22.027 ton. Sedangkan pupuk NPK alokasinya 13.945 ton. ”Samapai akhir bulan, ketersediaan ini masih cukup,” ucapnya Selasa (14/11).
Hingga akhir Oktober, pupuk urea yang terserap baru 12.000 ton. Dengan demikian, masih ada 10.000 ton pupuk urea yang bisa didapatkan masyarakat menjelang musim tanam. Sementara di musim tanam terakhir, kebutuhan pupuk biasanya hanya sekitar 5.000 ton.
”Saya khawatir jika tidak terbeli semua akan berdampak pada pengalokasian pupuk tahun 2024,” jelasnya.
Persoalan pupuk tidak hanya ada di aspek ketersediaan. Tetapi, juga melambungnya harga pupuk yang melebihi HET jelang musim tanam. ”Polemik di bawah memang penjualan tidak sesuai atau melebih HET yang sudah ditentukan,” ungkapnya.
Naiknya harga pupuk tersebut disebabkan jasa pengiriman. Sebab, masih ada petani yang menggunakan pihak ketiga untuk mengambil pupuk ke kios. Kesempatan tersebut menjadi faktor harga pupuk tidak sesuai dengan HET.
”Kalau ke kiosnya langsung, harganya masih tetap. Cuma jika menggunakan jasa pengantar pupuk itu ada ongkirnya. Juga masih ditemukan adanya kios yang menjual pupuk harga melebihi HET,” ungkapnya.
Distributor dan kios sudah diminta berjanji untuk tidak melanggar aturan penjualan. Saat ini pihaknya juga meminta petani berkoordinasi dengan kelompok tani (poktan). ”Mari ketersediaan pupuk ini segera diambil oleh kelompok sehingga pupuk tersedia sebelum memasuki musim hujan,” jelasnya. (ay/jup)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti