BANGKALAN, RadarMadura.id – Jantung berdebar dalam istilah medis dikenal dengan sebutan palpitasi. Yaitu, suatu kondisi jantung berdetak terlalu cepat dan sering kali tidak beraturan. Kondisi itu dapat terjadi dalam hitungan detik, menit, bahkan lebih lama.
Degup jantung yang tidak beraturan bisa menyebabkan sensasi yang tidak nyaman dan dirasakan sampai ke dinding dada, ulu hati, leher, maupun tenggorokan. Namun, sebagian orang menganggap remeh dan mengabaikan kondisi semacam itu.
Padahal, detak jantung menjadi parameter kesehatan jantung seseorang. Yaitu, berapa kali jantung seseorang berdetak dalam satu menit. Karena normalnya, jantung orang dewasa sehat akan berdenyut dengan laju antara 60–100 kali per menit.
Penanggung Jawab Poli Jantung RSUD Syamrabu dr. Liemena Harold Adrian, Sp.JP, FIHA, FAPSC menyatakan, palpitasi menjadi tanda awal kecurigaan seseorang menderita penyakit jantung. Terutama apabila disertai gejala serius lainnya.
”Seperti nyeri dada, sesak napas, berkeringat dingin, mual, muntah, pusing, pingsan, lemah separo badan, maupun kelemahan secara umum,” ujarnya.
Ada beberapa penyebab detak jantung tidak normal atau berdebar. Yakni, mengonsumsi produk dengan kandungan kafein berlebihan. Kemudian, mengonsumsi minuman beralkohol dan obat-obatan tertentu. ”Seperti obat yang bebas dijual di pasaran tanpa resep dokter dan obat stimulan atau obat diet. Lalu, jamu, suplemen herbal, dekongestan, dan inhaler asma,” terangnya.
Berikutnya juga bisa disebabkan gaya hidup yang tidak sehat. Misalnya, merokok, sering bergadang, dan kurang istirahat, serta berolahraga berat. Selain itu, bisa disebabkan masalah psikologis. Misalnya, stres, kecemasan berlebih, dan panik.
Berikutnya, juga dapat disebabkan perubahan hormonal. Terutama pada perempuan menstruasi, hamil, hingga menopause, hipertiroidisme, atau peningkatan kadar hormon tiroid yang dihasilkan kelenjar gondok dalam darah. ”Juga bisa karena demam, dehidrasi, maupun anemia juga dapat menyebabkan palpitasi,” terangnya.
Dalam kondisi yang lebih serius, seperti penderita penyakit jantung, rasa berdebar dapat ditemukan pada keadaan aritmia. Yaitu, kondisi abnormal di mana detak jantung dirasakan lebih kencang, tidak teratur atau terlalu lambat, kardiomiopati, penyakit katup jantung, gagal jantung, hingga serangan jantung.
Keterlambatan dalam diagnosis dini dan penanganan awal pada kondisi tersebut dapat berakibat fatal dan berisiko menyebabkan kematian, bahkan dalam hitungan detik. Karena itu, deteksi dini penyebab palpitasi sangat penting untuk mencegah kemungkinan komplikasi serius di kemudian hari.
Sedangkan metode pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk pasien yang mengalami palpitasi bisa dengan berbagai macam cara. Di antaranya, prosedur rekam jantung atau elektrokardiografi (EKG), ekokardiografi (USG jantung), dan pemantauan holter alias rekam jantung 24 jam, hingga pemeriksaan laboratorium khusus, dan penunjang lainnya.
Pemeriksaan tersebut harus dilakukan oleh dokter spesialis jantung yang kompeten dan profesional agar mendapatkan pelayanan terbaik. ”Segeralah berkonsultasi kepada dokter spesialis jantung di rumah sakit yang memiliki fasilitas pelayanan kesehatan jantung yang memadai untuk penanganan lebih lanjut,” sarannya. (jup)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti